Kamis, 11 Agustus 2022

Arti Kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina untuk Indonesia

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi Vladimir Putin, Joko Widodo dan Volodymyr Zelenskyy. Grafis: Dimas suarasurabaya.net

Kunjungan Joko Widodo Presiden ke Rusia dan Ukraina pada 27 dan 28 Juni mendatang, disebut menjadi salah satu langkah bersejarah. Pasalnya, selain kedua negara tersebut sedang terlibat perang yang mengguncang kestabilan perekonomian global, Indonesia sendiri merupakan ketua Presidensi G20 2022.

Menanggapi hal tersebut, Joko Susanto Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (HI Unair) pada Radio Suara Surabaya, Sabtu (25/6/2022), menyampaikan bahwa kunjungan Jokowi Presiden bisa menjadi upaya perdamaian atas konflik kedua negara.

“Sebagai Ketua Presidensi G20, Jokowi Presiden bisa memberikan jalan alternatif bagi negara yang berkonflik, bisa memberi kejelasan situasi efek global. Apalagi ke depan ada potensi krisis pangan dan ekonomi yang mengancam jika perang tidak berkesudahan,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Joko Susanto, kunjungan Jokowi Presiden untuk menegaskan bahwa Indonesia tidak terlibat dengan dua narasi yang sedang dibangun, yakni “Pro Rusia” dan “Rusia Phobia”. Hasil dari kunjungan tersebut, bisa membuat Indonesia melahirkan narasi ketiga yang bisa menjadi penengah kedua negara.

“Tidak partisan dan menyediakan satu jalan tengah yang konstruktif dan tidak hanya mewakili kepentingan negara berkembang serta anggota G20. Selain itu bisa mewakili kepentingan masyarakat dunia untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih baik,” paparnya.

Kunjungan tersebut, secara simbolis memiliki dampak yang sangat besar, khususnya bagi Indonesia. Apalagi sebagai ketua Presidensi G20, Jokowi Presiden harus memastikan jika pertemuan 20 Kepala Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar itu, tidak berjalan pincang.

“Bisa saja jika konflik ini terus dibiarkan, Vladimir Putin Presiden Rusia mungkin tidak hadir dan Volodymyr Zelenskyy Presiden Ukraina justru yang hadir meskipun bukan anggota G20. Pasti akan jadi pertemuan yang pincang,” ungkapnya.

Kata Joko Susanto, jika kunjungan tersebut tidak bisa menghasilkan sebuah perdamaian kedua negara, setidaknya bisa melahirkan opsi jeda untuk konflik tersebut. “Rusia melakukan invasi ke Ukraina dengan alasan bertahan dari ekspansi NATO, sementara kubu barat selama ini terus memanas-manasi sampai konflik tidak kunjung selesai,” jelasnya.

Terkait dampak kunjungan Indonesia tersebut di mata global, dinilai tidak akan berdampak sama sekali. Hal tersebut dikarenakan Indonesia tidak berstatus sebagai Juru Bicara kedua kubu, melainkan untuk membahas kondisi ekonomi global.

“Saya kira yang pasti Indonesia bisa mengambil posisi kekosongan leadership, yang bisa meningkatkan profil kita. Apalagi sekarang kita tahu Amerika Serikat hanya manas-manasi saja, Tiongkok juga memilih diam meskipun sebenarnya mendukung Rusia,” tuturnya.

Sebelumnya, Retno Marsudi Menteri Luar Negeri mengkonfirmasi kunjungan Jokowi Presiden ke Rusia dan Ukraina pada akhir bulan ini. Selain membahas isu kemanusiaan, Presiden juga akan mencoba memberikan kontribusi menangani isu pangan. Kunjungan tersebut juga akan menjadikan Indonesia sebagai negara Asia pertama, yang melakukan lawatannya di tengah konflik kedua negara.

Dalam pertemuan itu, Jokowi akan dikawal oleh 39 orang pasukan elite dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pasukan elit ini berasal dari tiga unsur TNI, baik dari TNI AD yang ditempa di Kopassus, TNI AL yang pernah ditempa di Denjaka, dan TNI AU yang pernah ditempa di Paskhas. (bil/iss)

 

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Kamis, 11 Agustus 2022
28o
Kurs