Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan menyerukan perlunya reformasi menyeluruh terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hal ini disampaikan Megawati dalam peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Dalam pidato kunci bertema relevansi Gerakan Asia Afrika di tengah krisis geopolitik global, Megawati menilai struktur PBB saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman karena masih berakar pada konfigurasi politik pasca-Perang Dunia II.
“Struktur PBB sudah usang. Dunia membutuhkan tatanan baru yang lebih adil dan setara bagi seluruh bangsa,” ujar Megawati.
Ia menghidupkan kembali gagasan besar Soekarno melalui pidato legendaris “To Build The World A New”, yang mendorong reformasi total lembaga global tersebut.
Menurut Megawati, salah satu langkah mendesak adalah menghapus hak veto yang dimiliki negara-negara besar karena dinilai menciptakan ketimpangan dalam pengambilan keputusan global.
Gagasan ini juga pernah disampaikan Bung Karno sebagai upaya demokratisasi PBB.
“Hak veto harus dihapus agar tidak ada lagi dominasi negara tertentu. Semua bangsa harus diperlakukan setara,” tegasnya.
Selain itu, Megawati juga mengusulkan agar nilai-nilai Pancasila dimasukkan dalam Piagam PBB sebagai dasar etika global.
Ia meyakini Pancasila dapat menjadi fondasi dalam menciptakan perdamaian dunia yang lebih berkeadilan.
Tak hanya itu, Megawati turut mengangkat kembali usulan pemindahan markas besar PBB ke negara netral, agar tidak terjebak dalam kepentingan geopolitik negara besar.
“Markas PBB seharusnya berada di wilayah netral, bukan di pusat kekuatan yang sarat kepentingan politik global,” ujarnya.
Megawati juga menyoroti kondisi dunia yang dinilainya semakin tidak stabil, dengan berbagai konflik internasional dan praktik neokolonialisme yang masih terjadi.
Ia sebelumnya juga menilai intervensi militer negara besar sebagai bentuk neokolonialisme modern yang mengancam kedaulatan bangsa.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi alasan kuat untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika melalui forum baru.
“Konferensi Asia Afrika jilid II menjadi sangat relevan untuk menghadapi neokolonialisme modern dan guncangan geopolitik dunia,” katanya.
Di akhir pidatonya, Megawati menegaskan bahwa dunia membutuhkan arah baru dalam membangun perdamaian global yang lebih inklusif.
“Dunia membutuhkan pemikiran alternatif. Semangat Bandung harus kembali menjadi kompas untuk membangun tatanan dunia yang adil,” pungkasnya.(faz)
NOW ON AIR SSFM 100
