Rabu, 21 Oktober 2026

Menuju 2029, PDIP Perkuat Pengaderan Anak Muda Lewat Sekolah Partai

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Komarudin Watubun Kepala Sekolah Partai PDIP saat membuka kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

PDI Perjuangan mulai memperkuat ruang dialog dan pengaderan generasi muda melalui kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai yang resmi dibuka di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).

Program itu menjadi salah satu upaya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus menjembatani komunikasi antargenerasi dalam menghadapi tantangan masa depan.

Kegiatan tersebut dihadiri Komarudin Watubun Kepala Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan, My Esti Wijayati Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga, Yuke Yurike Wakil Bendahara Umum DPP PDIP, Sigit K. Yunianto Bendahara Umum Sekolah Partai, serta Nida Zidny Paradisa Sekretaris Umum Sekolah Partai.

Di tengah dinamika politik nasional dan mendekati agenda politik 2029, pelibatan anak muda menjadi perhatian tersendiri.

Namun, Komarudin menegaskan tujuan utama kegiatan tersebut bukan semata-mata membangun dukungan politik praktis, melainkan menanamkan nilai perjuangan kepada generasi penerus.

Menurut dia, generasi muda perlu memahami sejarah perjuangan bangsa dan mengenal pemikiran para tokoh pendiri bangsa, termasuk Bung Karno, serta nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Megawati Soekarnoputri.

“Yang paling penting itu bukan PDI Perjuangannya, tapi perjuangan Bung Karno dan Ibu Mega itu harus diwariskan kepada generasi penerus. Di situ ada nilai. Perjuangan itu yang harus diteruskan,” ujar Komarudin.

Komarudin menjelaskan, Sekolah Partai menjadi wadah bagi anak muda untuk mempelajari ideologi Pancasila, memahami dasar negara, serta memperkuat kesadaran terhadap pentingnya menaati konstitusi.

Dia menilai, pemahaman tersebut harus dibangun sejak dini agar generasi muda memiliki bekal yang memadai ketika kelak mendapat kepercayaan memegang jabatan publik.

Menurutnya, kepemimpinan tidak bisa dibentuk secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang melalui pendidikan dan pengaderan.

“Kita sadarkan kepada generasi muda bahwa semua berproses, tidak ada yang jatuh dari langit. Supaya suatu ketika mereka jadi pejabat, mau jadi presiden, wakil presiden, harus siap, tidak bisa dipaksa. Nanti bikin rusak negara itu,” tegasnya.

Selain menekankan pendidikan ideologi, Komarudin turut menyoroti persoalan kesenjangan komunikasi antara generasi tua dan generasi muda.

Perbedaan cara pandang terhadap persoalan bangsa, menurutnya, perlu dijembatani melalui ruang pertemuan yang memungkinkan kedua generasi saling mendengar dan memahami.

Dia mengakui, jarak antara elite politik dan anak muda dapat menjadi persoalan apabila tidak direspons dengan komunikasi yang terbuka.

Kondisi tersebut berpotensi membuat generasi muda semakin tidak peduli terhadap perkembangan politik dan persoalan kebangsaan.

Karena itu, Sekolah Partai diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman generasi senior dengan gagasan dan perspektif baru dari kalangan muda.

“Nah, itu makanya sekarang kita karena ada gap ini, kita buka gap-nya supaya ketemu kan di situ. Yang menjadi masalah kalau kita yang tua tetap bertahan, yang muda tetap apatis terhadap keadaannya,” kata Komarudin.

Kemudian, Komarudin menegaskan, masa depan bangsa tidak bisa hanya dibebankan kepada generasi yang saat ini memegang kekuasaan. Keterlibatan anak muda dalam memahami dan merespons persoalan nasional menjadi bagian penting dari keberlanjutan kepemimpinan Indonesia.

“Ini yang kita lagi buka jalan untuk kita duduk sama-sama karena masa depan bangsa ini ada di tanganmu, bukan ada di tangan saya lagi,” lanjutnya.

Melalui kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai, PDI Perjuangan berupaya mendorong generasi muda agar tidak hanya mengenal politik dari dinamika perebutan kekuasaan, tetapi juga memahami nilai, tanggung jawab, dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan politik dan ideologi diharapkan dapat membantu peserta membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai demokrasi, konstitusi, serta pentingnya partisipasi warga negara dalam menentukan arah bangsa.

Bagi Komarudin, pengaderan merupakan bagian dari proses menyiapkan pemimpin yang memiliki kesiapan pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab. Dengan demikian, regenerasi kepemimpinan tidak sekadar menjadi pergantian figur, tetapi juga menjadi proses pewarisan nilai dan pengalaman.

Di tengah persiapan menuju dinamika politik 2029, pendekatan terhadap generasi muda melalui pendidikan dan dialog menjadi langkah untuk memperkecil jarak antargenerasi.

Tantangannya adalah memastikan ruang tersebut mampu menampung aspirasi anak muda sekaligus mendorong mereka terlibat aktif dalam menjawab persoalan bangsa.

Melalui Sekolah Partai, PDIP berharap generasi muda dapat memahami akar sejarah perjuangan Indonesia, memperkuat wawasan kebangsaan, serta mempersiapkan diri untuk mengambil peran dalam kepemimpinan nasional di masa mendatang.(faz/rid)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Rabu, 21 Oktober 2026
32o
Kurs