Ia menilai, perbedaan latar belakang, suku, dan agama seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih inklusif.
“Tanpa cucuran keringat, air mata, dan perjuangan bersama dari para pendahulu yang luhur itu, kita tidak akan pernah mungkin, kita yang berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda agama, bisa duduk bersama-sama di tempat ini hari ini,” ungkap Komarudin di hadapan para peserta.
Pesan tersebut selaras dengan suasana aula utama Sekolah Partai yang menampilkan potret para proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, berdampingan dengan tokoh-tokoh lintas agama dan organisasi kemasyarakatan.
Kehadiran potret tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan bersama, bukan dari satu kelompok semata.
Dalam kesempatan itu, Komarudin juga menjelaskan bahwa pendidikan politik bagi generasi muda harus melampaui pemahaman mengenai pemilu dan perebutan kekuasaan.
NOW ON AIR SSFM 100

