Namun, Lia mengingatkan perjuangan kepentingan daerah tidak boleh berubah menjadi pertentangan antara pusat dan daerah. Kritik terhadap pemerintah harus ditempatkan sebagai instrumen koreksi, bukan bahan untuk memperlebar fragmentasi politik maupun sosial.
“Kritikan itu tidak boleh menjadi alat untuk merusak persatuan, tetapi bagaimana kritik itu justru menjadi bagian untuk menguatkan persatuan,” tegasnya.
Selain persoalan representasi daerah, Lia menilai semangat kemerdekaan juga harus diterjemahkan melalui penguatan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
Ia mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak semata-mata ditentukan oleh perusahaan besar, industri, maupun sektor keuangan. Petani, nelayan, pedagang, pengrajin, perempuan dan pelaku usaha muda di desa juga memiliki peran penting dalam menjaga denyut ekonomi nasional.
“Tidak bisa dipungkiri, kekuatan ekonomi Indonesia bertumpu pada petani kita, nelayan kita, pedagang kita, pengrajin kita, perempuan kita, emak-emak keluarga kita, dan anak-anak muda kita yang membangun usaha di kampung-kampung mereka sendiri,” ujarnya.

NOW ON AIR SSFM 100

