Lia kemudian menyinggung pengalaman Indonesia ketika menghadapi krisis moneter 1998. Saat perusahaan besar dan sejumlah institusi keuangan mengalami tekanan, aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat bawah justru tetap berjalan dan menjadi salah satu penyangga kehidupan.
“Kita ingat waktu krisis 1998, krisis moneter, bank-bank besar runtuh, perusahaan-perusahaan besar bangkrut, banyak yang kabur. Tetapi ekonomi desa, ekonomi kerakyatanlah yang kokoh, yang menyelamatkan,” tuturnya.
Atas dasar itu, ia mendorong agar kebijakan pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga memastikan masyarakat daerah mendapatkan manfaat nyata.
Bagi Lia, kemerdekaan memiliki makna yang lebih substantif ketika masyarakat di berbagai daerah merasa mendapatkan ruang yang adil untuk tumbuh dan berkembang.
“Semangat kemerdekaan adalah bagaimana seluruh daerah merasa menjadi bagian penting dari Indonesia. Ketika daerah maju, ekonomi rakyat kuat, dan masyarakat merasakan keadilan, maka persatuan Indonesia juga akan semakin kokoh,” pungkasnya.(faz)

NOW ON AIR SSFM 100

