Minggu, 28 November 2021

Diabetes Tak Cukup Dikenali Hanya dari Gejala

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Seorang pria mengecek kadar gula darahnya dengan alat. Foto: Istimewa

Prof. DR dr. Ketut Suastika Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) mengatakan, ada sejumlah gejala yang bisa dikenali untuk mendeteksi kondisi seseorang dengan diabetes, tetapi gejala ini tak selalu jelas.

“Diabetes penyakit kronik yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah dengan gejala klasik seperti banyak makan, banyak minum, banyak kencing dan berat badan turun. Gejala tidak selalu jelas terkadang pasien sudah jatuh pada komplikasi,” kata dia dalam virtual media gathering bertema “Pantang Menyerah, Siaga Gula Darah”, hasil kerja sama PERKENI dan Good Doctor Technology Indonesia, Senin (16/11/2020).

Di sisi lain, terkadang gejala antara satu pasien dan lainnya tidak sama sehingga pemeriksaan kadar gula darah menjadi anjuran dokter. Pemeriksaan ini bisa dilakukan acak atau sewaktu-waktu, saat berpuasa, atau menjalani tes HbA1c.

Sebelumnya, Dr. dr. Sony Wibisono Presiden Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PB PERSADIA) menuturkan, pemeriksaan gula darah bisa dilakukan setahun sekali (jika tak ada riwayat keluarga dengan diabetes), sekaligus melakukan pemeriksaan medis menyeluruh.

“Kalau masih normal semua, periksa mungkin bisa 2-3 tahun sekali. Tetapi kalau sudah ada faktor risiko sedang atau berat, jangan setahun, bisa lebih rapat lagi misalkan 6 bulan atau 3 bulan sekali,” tutur dia seperti dilansir Antara.

Dari sisi faktor risiko, seseorang bisa terkena diabetes antara lain jika mengalami obesitas, malas berolahraga dan riwayat keluarga dengan diabetes.

Jika terlanjur terkena diabetes, maka pengelolaan atau manajemen penyakit menjadi penting agar tak muncul komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke.

Prof. Suas merekomendasikan penderita berusaha mengilangkan gejala dengan memperbaiki kadar gula darah seperti menerapkan diet sehat, melakukan aktivitas fisik, berhenti merokok dan perawatan psikologis.

Asupan makanan yang dianjurkan komposisinya terdiri dari karbohidrat 45-60 persen, protein 10-20 persen, lemak 20-25 persen (lemak jenuh kurang dari 7 persen, lemak tak jenuh kurang dari 10 persen), cukup vitamin dan mineral, serta natrium kurang dari 2300 mg per hari. Setiap harinya, dibutuhkan kalori basa 25-30 kcal per berat badan ideal (rumus berat badan ideal yakni: 90 persen {tinggi badan dalam satuan cm -100} x 1 kg).

Sementara untuk aktivitas fisik, Prof Suas menganjurkan jenis aerobik mulai 10 menit lalu ditingkatkan sampai 30 menit per hari dan dilakukan 4 kali dalam seminggu.

“Kalau gula darah masih tinggi bisa dengan obat-obatan, tetapi ini sangat kompleks. Saya anjurkan pasien berkonsultasi dengan dokter. Setiap individu itu khas, diabetes tidak semua sama (pada setiap penyandangnya) misal, ada saraf rusak, ada usia lanjut, dipilih obat sesuai,” kata dia.(ant/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 28 November 2021
25o
Kurs