Rabu, 6 Juli 2022

Budayawan Menilai Kesenian Ludruk Bisa Adaptif di Setiap Zaman

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Cak Kartolo dan Cak Sapari seniman Ludruk senior yang masih eksis di Surabaya pada sebuah pementasan. Foto: Dok. suarasurabaya.net

Kesenian Ludruk yang melekat pada Kota Surabaya, harus lebih diperhatikan dan dikembangkan lagi jika ingin terus eksis di era modernisasi saat ini. Apalagi, saat ini telah banyak lahir bentuk kesenian yang memiliki unsur komedi modern, seperti stand up comedy hingga film layar lebar.

Terkait potensi kolaborasi dengan seni masa kini, Kukuh Budi Setyo selaku budayawan, dalang, sekaligus seniman Kota Surabaya, pada Radio Suara Surabaya Jumat (27/5/2022) pagi mengatakan, Ludruk sebenarnya memiliki sifat adaptif seiring perkembangan zaman.

“Ludruk muncul dan berkembang sesuai zamannya. Dari masa ke masa selalu mengikuti perkembangan zamannya karena adaptif banget,” terangnya.

Cak Kukuh sapaan akrabnya, juga menyebut jika kesenian harus memiliki sifat cerdas, dalam arti mampu mengadopsi perkembangan sosial yang ada di masyarakat. Dia juga mencontohkan kesenian Remo yang saat ini sudah berkembang, demikian dengan Kidungan Jula-Juli yang bahan lawakannya adaptif dengan zaman sekarang.

“Soal regenerasi, seharusnya setiap era ada yang mewakili dan terwakili di pertunjukan pentas seni. Harusnya ada pelaku muda-muda yang memainkan peran di setiap pertunjukan, dengan materi yang lagi tren saat ini,” paparnya.

Untuk menggaet anak-anak muda ikut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan tersebut, Cak Kukuh berharap adanya sekolah atau pun jurusan kesenian khusus Ludruk di Jatim. Hal ini, agar regenerasi bisa tetap berjalan.

Mosok arek-arek Suroboyo lebih seneng budoyo luar negeri, tapi ga karo keseniane awak dewe. Kalau budayanya mau diklaim luar negeri, baru gupuh semua,” candanya.

Sementara itu terkait publikasi Ludruk yang saat ini sudah sangat jarang disiarkan oleh televisi, Cak Kukuh berpendapat, bahwa Ludruk dan para senimannya harus berpindah ke media sosial yang saat ini dinilai justru lebih menjanjikan.

Sebagai informasi, kata Cak Kukuh, kesenian Ludruk sejatinya terlahir dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur dengan nama Lerok Besutan. Namun, kesenian itu pada akhirnya berkembang dan besar di Kota Surabaya. Dengan banyaknya culture modern yang berkembang di tengah masyarakat Kota Pahlawan, antusiasme pada Ludruk seolah kian memudar.

Beberapa pendengar Suara Surabaya (SS) mengaku, sangat disayangkan jika kesenian Ludruk tidak lagi dilestarikan sebagaimana mestinya. Apalagi, selain nilai-nilai yang bisa didapatkan banyak kenangan dan sejarah dalam kesenian tersebut.

“Dulu di Gedung Ludruk di Jalan Jarak dan Wonokromo Surabaya juga ada, dan selalu nonton saya. Selain itu selalu dengar juga dari siaran Ludruk RRI. Saran saja cerita legend seperti “Sarip Tambakoso” diangkat lagi, karena dulu sangat populer di kalangan anak muda,” ujar Budi Raharjo pendengar SS dalam program Wawasan, Jumat pagi.

“Liat terakhir di Balikpapan pas ada mantenan. Saya kagetnya justru banyak orang Jawa di sana, jadi suka liat Ludruk bareng. Ludruk ini kesenian yang selain bisa untuk hiburan, ada juga pesan pemersatu bangsanya,” ucap Supadiono pendengar SS.

“Memang bermanfaat, cerita-ceritanya bagus bahkan saya waktu kecil dulu lihatnya kadang suka merinding kalau ada pesan-pesannya di akhir cerita. Harus dibudayakan lagi itu biar generasi muda tidak hanya main gadget saja,” tutur Abdul Malik pendengar SS. (bil/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
27o
Kurs