Minggu, 14 Agustus 2022

Mahasiswa ITS Raih Prestasi di Dunia Sinematografi Lewat Film Dokumenter

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Masy’ Aril Aulia Firman Andrianto, mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITS yang meraih Juara I Erlangga Art Awards 2022 kategori Film Dokumenter Terbaik. Foto: Humas ITS

Aril Aulia Firman Andrianto Mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil meraih prestasi dalam Erlangga Art Awards 2022 melalui sebuah film dokumenter yang bercerita tentang kuliner khas Blitar.

Film yang ia gunakan sebagai hasil Tugas Akhir (TA) kuliah di bawah Nugrahardi Ramadhani sebagai dosen pembimbing, diproduksi selama tujuh bulan dengan ide dan konsep yang sudah dirancang sejak awal tahun 2021.

“Alhamdulillah bisa diapresiasi dengan baik dan meraih Juara Pertama Nasional Film Dokumenter Terbaik,” ungkap mahasiswa angkatan 2018 ini dengan bangga, dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Rabu (29/6/2022) malam.

Film dokumenter dengan judul “Legenda Kuliner Patria” tersebut dibuat dari keresahan Aril, karena banyak masyarakat lokal yang belum mengenal keberagaman kuliner kotanya.

“Jadi tidak hanya menikmati sejarah kotanya, wisatawan yang mungkin berkunjung ke Blitar harusnya juga bisa mengenal dan menikmati kulinernya,” ujar Aril

Poster film dokumenter berjudul Legenda Kuliner Patria karya Masy’ Aril Aulia Firman Andrianto, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS. Foto: Humas ITS

Selain terkenal dengan wisata sejarahnya, Kota Blitar juga memiliki kekayaan cita rasa kuliner. Kuliner khas Blitar yang diangkat dalam film ini seperti ice drop, es pleret, dawet serabi, iwak kali, tahu bumbu lawu, dan wajik kletik. Masing-masing durasi dari alur dalam film ini diformulasikan dapat mewakili visualisasi setiap jenis kuliner tersebut. Mulai dari ciri masing-masing kuliner hingga cara produksinya.

“Setiap kuliner yang ditampilkan pun memiliki filosofi yang sarat akan makna,” tuturnya.

Aril sendiri berperan sebagai produser dan sutradara sekaligus konseptor pada film ini. Ia pun mengajak beberapa siswa SMA binaannya di Blitar untuk membentuk rumah produksi B-Roll
Studio. Rumah produksi tersebut menjadi wadah baginya untuk membina dan mengembangkan kemampuan siswa binaannya.

“Karena saya liat mereka punya potensi di fotografi dan sinematografi, tapi selama ini belum terpenuhi fasilitas yang layak,” tambahnya.

Melalui film ini, Aril pun berharap dapat berperan penting untuk memperkenalkan kuliner khas Blitar tidak hanya kepada masyarakat lokal tapi juga ke seluruh masyarakat Indonesia. Film ini pun telah ditayangkan di Museum Nasional Indonesia sepanjang Mei dan Juni 2022.

Bahkan, pada 24 Juni 2022 lalu, film ini juga telah diminta oleh Wali Kota Blitar untuk ditayangkan di CGV Blitar Square bertepatan dengan bulan Bung Karno. Beberapa pemerintah daerah (pemda) sekitar pun diundang untuk menghadiri penayangan film tersebut.

“Saya sangat antusias mengingat ini bisa jadi momen untuk menyebarluaskan film kami kepada masyarakat luar,” pungkasnya optimistis. (bil/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Minggu, 14 Agustus 2022
30o
Kurs