Minggu, 12 Mei 2024

Kenali Penyebab Stunting pada Anak dan Cara Mencegahnya

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi stunting: Foto: Suara

Galih Herlambang dokter spesialis anak menjelaskan penyebab dari timbulnya risiko stunting pada anak dan kiat untuk mencegah gangguan pertumbuhan tersebut.

Stunting adalah kondisi bentuk tubuh anak yang pendek, di mana panjang atau tinggi badan anak menurut usianya kurang dari -2.00 standar deviasi berdasarkan jenis kelamin yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi.

Stunting merupakan masalah utama di malnutrisi anak, jadi ada 150 juta anak di usia balita yang mengalami stunting,” ujar Galih pada Sabtu (29/7/2023) dilansir Antara.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting berkaitan dengan faktor kemiskinan, buruknya gizi dan kesehatan ibu hamil, penyakit atau infeksi berulang, dan pola asuh atau pemberian nutrisi yang tidak sesuai.

Salah satu penyebab dari kondisi tubuh anak yang memiliki perawakan pendek adalah stunting, gangguan tersebut identik dengan postur tubuh yang pendek serta kurus.

Stunting itu identik dengan pendek kemudian kurus, kalau pendek gemuk kemungkinan besar bukan stunting,” tambahnya.

Galih menyebutkan, penyebab risiko stunting pada anak antara lain kondisi kesehatan dan nutrisi ibu pada masa kehamilan, ibu hamil yang menderita anemia, pola asuh dan pemberian makan yang salah, serta asupan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kurang.

Selain itu, terdapat sejumlah penyakit kronis yang berkontribusi terhadap munculnya stunting antara lain prematuritas atau pertumbuhan janin terhambat, gizi buruk, alergi makanan atau susu sapi, dan kelainan metabolik bawaan.

Pada dasarnya, stunting memiliki berbagai dampak bagi anak. Mulai dari dampak pada pertumbuhan yaitu perawakan tubuh anak menjadi lebih pendek daripada rata-rata seusianya, berat badan yang kurang, dan komposisi tubuh tidak proporsional.

Kemudian terdapat dampak terhadap perkembangan yaitu mengganggu atensi atau pelancaran berpikir dan memori, kecerdasan dan skor IQ lebih rendah. Proses perkembangan terlambat terutama pada usia 1-3 tahun, hingga masalah psikososial seperti cemas, depresi, serta kurang percaya diri.

Galih menjelaskan, pencegahan stunting bisa dimulai sedini mungkin yaitu dari masa remaja. Remaja perempuan yang sehat dan bahagia akan terhindar dari risiko stunting pada anaknya kelak.

Kemudian, untuk ibu hamil perlu mendapat nutrisi yang optimal dan hindari kehamilan saat mengidap anemia, karena akan meningkatkan dua risiko pada bayi yaitu prematuritas dan berat badan lahir yang rendah.

Pencegahan lainnya adalah pemberian asupan nutrisi berupa Inisiasi Menyusui Dini (IMD), air susu ibu, dan MPASI untuk bayi dibawah usia dua tahun. Pemberian nutrisi yang baik menjadi penting bagi proses pertumbuhan dan pencegahan stunting pada anak terutama ketika dua tahun pertama kehidupannya.

“Kalau mau memperbaiki anak dengan gangguan pertumbuhan, yang membutuhkan makanan terutama, adalah di dua tahun pertama ketika sudah lebih dari dua tahun akan sulit,” tambah Galih.

Galih juga menyampaikan, sejumlah tindakan penanganan ketika menghadapi stunting yaitu melakukan konsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Selain itu, anak perlu diberikan imunisasi untuk mencegah infeksi dan penyakit berat, asupan nutrisi atau zat gizi yang tepat dan benar sesuai usia, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. (ant/fra/saf/faz)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Massa Hari Buruh Berkumpul di Frontage Ahmad Yani

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Surabaya
Minggu, 12 Mei 2024
29o
Kurs