Menurut Venny, dampak paparan abu vulkanik dapat muncul dalam waktu singkat maupun berkembang menjadi masalah kesehatan dalam jangka panjang.
“Secara akut, paparan konsentrasi tinggi akan langsung memicu reaksi pada mata seperti pedih dan berair, kulit gatal dan muncul ruam hingga gangguan saluran napas. Debu yang masuk memicu iritasi yang membuat saluran napas menyempit, membengkak, dan memproduksi lendir berlebih. Hal ini bisa menyebabkan batuk hebat, sesak napas, hingga penurunan saturasi oksigen,” jelas Venny dalam keterangan tertulis pada Selasa (15/9/2026).
Risiko yang lebih serius dapat muncul ketika seseorang terpapar debu silika kristalin dalam konsentrasi rendah tetapi berlangsung selama berbulan-bulan hingga waktu yang panjang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan silikosis.
“Sifat debu silika ini tidak dapat dieliminasi oleh tubuh dengan cara apapun. Akibatnya, timbul fibrosis atau jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru secara ireversibel dan tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat direhabilitasi,” tegasnya.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah dengan potensi paparan material vulkanik perlu mengurangi kontak langsung dengan abu.

NOW ON AIR SSFM 100

