Viralitas kini seolah menjadi salah satu ukuran keberhasilan karya musik di tengah dominasi media sosial dan algoritma platform digital. Musisi dituntut tidak hanya menghasilkan lagu yang menarik, tetapi juga memikirkan cara agar karyanya mendapat perhatian pendengar.
Namun, bagi Bilal Indrajaya musisi, viralitas bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa direncanakan. Menurutnya, tidak ada formula pasti untuk membuat sebuah lagu menjadi viral.
Musisi tersebut bahkan melihat lagu yang sengaja didorong melalui strategi promosi belum tentu mendapat perhatian sebesar karya lain yang tumbuh secara organik.
“Saya percaya banyak sekali fenomena viral itu yang enggak disengaja. Algoritma juga random, yang ke-pick up juga random,” kata Bilal saat dihubungi suarasurabaya.net, Sabtu (5/9/2026).
Ia mengaku mendengar cerita dari sejumlah musisi yang sengaja mendorong lagu tertentu agar mendapat perhatian di platform digital. Namun, dalam beberapa kasus, justru lagu yang tidak diprioritaskan yang kemudian berkembang dan mendapat perhatian pendengar.
“Banyak juga yang memang bikin on purpose supaya viral, tapi yang memang enggak diniatin tahu-tahu ke-pick up, lagunya naik. Jadi mungkin itu enggak ada formulanya,” ujarnya.
Menurut Bilal, perjalanan sebuah lagu tidak sepenuhnya berada dalam kendali musisi atau strategi promosi. Audiens dan algoritma turut menentukan karya mana yang akhirnya mendapat ruang lebih besar.
Karena itu, ia memilih untuk tetap berfokus pada proses berkarya daripada terlalu mengejar viralitas.
“Kalau yang saya percaya sih ya berkarya aja,” kata Bilal.
Kolaborasi Tak Selalu Soal Pasar
Di sisi lain, kolaborasi antarmusisi menjadi bagian dari perkembangan industri musik di era digital. Pertemuan musisi dengan genre dan latar belakang berbeda dapat membuka kemungkinan munculnya warna baru dalam sebuah karya.
Bagi Bilal, kolaborasi tidak selalu lahir dari pertimbangan pasar. Ada yang bermula dari kebutuhan artistik, tetapi ada pula yang terjadi secara spontan karena hubungan pertemanan.
“Kadang-kadang kita bikin lagu yang lagunya kayaknya cocok deh, feeling aja, pure feeling. Pernah juga saya collab sama musisi purely karena memang kami berteman. Seru nih, yuk,” tuturnya.
Bilal mengakui kolaborasi dapat menjadi strategi untuk memperluas audiens. Dua musisi dengan basis pendengar berbeda bisa mempertemukan audiens masing-masing melalui satu karya.
Namun, memperluas pasar bukan selalu pertimbangan utamanya. Ia justru lebih menekankan kecocokan ketika bekerja dengan musisi lain.
Bilal pun terbuka untuk berkolaborasi, termasuk dengan musisi lokal. Menurutnya, proses tersebut akan berjalan baik ketika terdapat chemistry di antara para musisi.
“Yang paling penting buat saya ketika hendak kerja sama orang itu, nge-telan dulu, jadi bisa tahu. Pasti ada momennya kita feeling klik. Itu susah di-describe bagaimana,” kata dia.
Pada akhirnya, era digital membuat perjalanan sebuah lagu semakin kompleks. Kreativitas musisi bertemu dengan selera pendengar, strategi industri, serta algoritma platform digital.
Viralitas memang dapat menjadi pintu masuk sebuah karya kepada audiens yang lebih luas. Namun, bagi Bilal, viral bukan sesuatu yang harus selalu dikejar.
Ketika algoritma tidak bisa diprediksi, satu hal yang tetap berada dalam kendali musisi adalah karya yang dibuatnya. (fab/ham)
Penulis: Fabian Yudhistira
Editor: Hamim Arifin

NOW ON AIR SSFM 100

