Rabu, 14 Oktober 2026

Kementerian Kebudayaan Pulihkan Struktur Yasti Borobudur, Keaslian Batu Jadi Prioritas

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Fadli Zon Menteri Kebudayaan dalam taklimat media bertajuk “Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur” di Museum Nasional Indonesia. Foto: istimewa

Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur untuk menjaga kestabilan struktur serta mempertahankan keaslian material bangunan bersejarah tersebut.

Pekerjaan yang ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026 ini dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kajian teknis yang menemukan sejumlah kerusakan pada bagian puncak candi.

Fadli Zon Menteri Kebudayaan menjelaskan, pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan struktur dengan tetap mengedepankan prinsip pelestarian cagar budaya.

Langkah tersebut dilakukan setelah pemantauan pada Agustus 2026 mengidentifikasi pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti serta harmika.

“Pemugaran ini dilakukan berdasarkan temuan dan kajian teknis di lapangan, dengan mengutamakan penggunaan material asli. Setiap batu didokumentasikan, diberi nomor, dan dipasang kembali pada posisi semula,” ujar Fadli dalam taklimat media bertajuk “Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dikutip, Rabu (14/10/2026).

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada batu yang diganti. Setiap tindakan lanjutan harus melalui pemeriksaan menyeluruh agar tidak mengurangi keaslian material maupun nilai sejarah bangunan.

Selain pemugaran yasti, konservasi Mahastupa juga dilakukan untuk menangani pelapukan batu, rongga, rekahan, dan penggaraman.

Kondisi lingkungan, paparan cuaca dalam jangka panjang, serta perubahan iklim menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga ketahanan material candi.

Ali Akbar Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA) mengatakan bahwa pemeriksaan teknis dilakukan menggunakan beberapa metode, di antaranya Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, dan hammer test.

“Pemeriksaan dengan berbagai metode menunjukkan bahwa bagian yasti masih utuh, tetapi kondisinya rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang perlu ditangani,” kata Ali.

Menurutnya, hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah pemugaran secara terukur. Proses penanganan juga membuka kesempatan untuk mempelajari kondisi bagian atas Borobudur yang telah lama tidak menjalani pemugaran menyeluruh.

Terkait aspirasi umat Buddha mengenai rencana pemasangan chattra di puncak Mahastupa, Fadli menyampaikan bahwa pembahasannya masih berlangsung.

Kajian HIA telah disampaikan kepada UNESCO dan memerlukan pembahasan lebih lanjut sesuai ketentuan pelestarian Warisan Dunia.

Selama pekerjaan berlangsung, Borobudur tetap dibuka untuk wisatawan dengan penyesuaian akses. Kunjungan reguler dan pilgrim dibatasi hingga lantai 8 atau teras 1, sedangkan kunjungan matahari terbit dan terbenam tetap dapat mencapai lantai 9 atau teras 2. Pelataran utara ditutup sementara sebagai zona kerja.

Pemugaran dilaksanakan oleh tim gabungan yang melibatkan ahli arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi.(faz/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Rabu, 14 Oktober 2026
31o
Kurs