Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur optimis stabil di 2008, meski polanya cenderung ke arah deindustrialisasi. Sementara infrastruktur, distribusi, transportasi, perijinan masih menjadi masalah internal Jawa Timur.
Demikian ungkap M IKHSAN MODJO Direktur INSEF (Institute for Strategic Economics and Finance) dalam “Indonesia and East Java Outlook 2008”, Rabu (19/12), di Hotel Shangri-La.
Menurut IKHSAN, ada beberapa sektor yang meningkat di tahun 2008. Diantaranya, sektor pertanian naik dari 4,30% menjadi 4,66%. Ini disebabkan peningkatan nilai tukar petani dan meningkatnya banyak produk pertanian baik di pasar global maupun domestik.
Sektor pertambangan dan penggalian, juga meningkat dari 7,98% (2007) menjadi 9,01% (2008). Peningkatan ini, kata IKHSAN, sudah dipicu adanya investasi migas yang masuk di kuartal terakhir 2007. “Imbasnya, sektor pertambahan dan penggalian naik 1%-2%,”ujarnya.
Sedangkan sektor-sektor yang tradeables akan mengalami mixed blessing di 2008. Misalnya, industri manufaktur semakin tertekan akibat lemahnya infrastruktur Jawa Timur, kenaikan harga minyak dan kekakuan ketenagakerjaan.
Padahal deindustrialisasi di Jawa Timur sebenarnya sudah mulai beradaptasi kembali di 2007 setelah terpukul kasus lumpur Lapoindo. Kata IKHSAN, sektor industri mengalami penurunan dari 3,36% di 2007 menjadi 2,01% pada 2008.
“Pada 2005, sektor industri tumbuh 4,96%. Tapi Lapindo meledak dan infrastruktur terganggu, industri drop lebih dari 1,8%-1,9% dan terasa di 2006. Tahun ini mulai beradaptasi dengan adanya jalan pintas dan menyesuaikan kondisi infrastruktur yang ada. Sayangnya untuk masuk ke 2008 sudah ada ancaman kenaikan harga minyak,”paparnya.
Secara total tradeables ekonomi Jawa Timur akan turun pertumbuhannya dari 1,88% menjadi 1,57%. Untuk sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor jasa dan keuangan, menurut IKHSAN, proyeksinya naik meski tidak signifikan.
Mengenai inflasi Jawa Timur di 2008, INSEF memprediksi akan lebih tinggi pada 2008 yakni 6,85%. Tingkat inflasi Jawa Timur ini lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional akibat distribusi barang antar kabupaten dan kota di Jawa Timur masih memiliki tingkat hambatan tinggi, adanya pemilihan gubernur Jawa Timur dan kepala daerah serentah di beberapa daerah serta kenaikan tarif peti kemas, harga pakan ternak, serta kebijakan pemerintah daerah terkait dengan harga tarif PDAM. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

