Jumat, 16 Oktober 2026
AEC Blueprint

Merebut Peluang Era Baru ASEAN

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint sangat penting sebagai platform reformasi regional dalam merebut peluang era baru ASEAN. Ini akan meningkatkan daya saing dan daya tarif vis a vis RRT dan India serta posisi tawar ASEAN dalam rangka perundingan ASEAN + 1 (RRT, Korea, Jepang, Australia-NZ, India dan Uni Eropa).

IMAN PAMBAGYO MA Direktur Kerjasama Regional Ditjen KPI Departemen Perdagangan dalam sosialisasi AEC Blueprint di Surabaya, Senin (17/12), mengatakan, intisari dari AEC Blueprint ini memuat kerangka dan elemen AEC, rencana aksi dan target waktu hingga tahun 2015.

“Kerangka AEC terdiri dari pasar tunggal dan basis produksi regional, kawasan yang memiliki daya saing tinggi, pembangunan ekonomi di kawasan yang merata serta integrasi perekonomian kawasan dengan perekonomian global,”tukasnya.

IMAN memaparkan market size kawasan ASEAN di tahun 2006 sebesar 567,4 juta dengan pertumbuhan ekonomi 5,8%. Total GDP US$ 1.064,4 milyar dengan 80% penduduk berusia di bawah 44 tahun.

Sementara ekspansi perekonomian RRT dan India, kata IMAN, lebih cepat dari ASEAN. Misalnya, dari rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara riil dari 2000-2005, China mencapai 9,5%, India 7% dan ASEAN hanya 4,8%. Sedangkan di kawasan ASEAN sendiri, pertumbuhan PDB tertinggi dicapai Kamboja (9,1%), disusul Vietnam (7,5%), Laos (6,3%, Thailand (5,1%) dan Indonesia (4,7%).

Tidak hanya pertumbuhan PDB yang lebih cepat dari ASEAN, kenaikan PMA (Penanaman Modal Asing) di RRT juga lebih tinggi dibandingkan di ASEAN. Total nilai dan kontribusi PMA di RRT periode 1995-2000, sebesar US$ 537 milyar. Indonesia sendiri terendah di kawasan ASEAN, yakni sebesar US$ 12 milyar.

“RRT sendiri digunakan sebagai hub. Pertumbuhan perdagangan Intra-ASEAN relatif lambat dibanding ASEAN-RRT, sementara pertumbuhan perdagangan RRT dengan negara lain terus naik,”ujarnya.

Sejak implementasi penuh Common Effective Preferential Tariff (CEPT)-AFTA tahun 2002, kata IMAN, ekspor Intra-ASEAN tumbuh lebih tinggi daripada ekspor ASEAN ke dunia. Misalnya, nilai ekspor Indonesia ke dunia pada 2002 sebesar US$ 57.159 juta naik 76,3% di tahun 2006 atau menjadi US$ 100.799 juta. Sedangkan nilai ekspor ke Intra-ASEAN mencapai US$ 9.946 menjadi US$ 18.483 juta di 2006, naik 85,5%. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
30o
Kurs