Jumat, 16 Oktober 2026
Manfaatkan Peluang FTA

Iklim Usaha Indonesia Harus Kondusif

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Indonesia masih memiliki banyak tantangan untuk bisa memanfaatkan peluang ASEAN Free Trade Agreement (AFTA). Indonesia harus menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga daya saing Indonesia meningkat.

Menurut DJATMIKO BRIS WITJAKSONO dari Direktorat Kerjasama Regional Departemen Perdagangan RI dalam sosialisasi ASEAN Economic Community Blueprint di Hotel Elmi, Senin (17/12), iklim usaha yang kondusif bisa dilakukan dengan penghapusan ekonomi biaya tinggi termasuk penyederhaan perijinan. Karena dengan ASEAN-FTA, masing-masing negara mulai menurunkan pos tariff-nya yang ditargetkan pada 2010 mencapai nol persen.

Dengan adanya ASEAN FTA, kata DJATMIKO, akan memberikan beberapa manfaat bagi ekonomi Indonesia. Diantaranya, menjamin posisi perdagangan yang mendorong daya saing ekpor, melindungi pangsa pasar dengan negara lainnya, membuat impor lebih murah untuk konsumen dan dunia usaha serta memberikan kesempatan dunia usaha domestik meningkatkan keuntungan ekspornya.

“Melalui ASEAN-China FTA, akses pasar produk pertanian Indonesia ke China meningkat pada 2007, akibat tambahan 20% dari Normal Track (sekitar 940 pos tariff) yang diturunkan tingkat tarifnya menjadi 0%-5%. Tahun 2010, seluruh pos tariff dalam Normal Track China jadi nol persen,”paparnya.

DJATMIKO mengatakan untuk paket pertama persetujuan perdagangan jasa ke China sudah diimplementasikan Juli 2007. Indonesia menawarkan 3 sektor jasa yakni pariwisata, energi dan kontruksi. Sedangkan di sektor investasi dan kerjasama ekonomi masih dalam proses negoisasi.

Begitu pula dengan ASEAN-Korea FTA, ungkap DJATMIKO, akses pasar Indonesia pada 2008 ke Korea otomatis akan meningkat. Karena sekitar 95% pos tariff Korea dalam Normal Track akan dihapus.

Sedangkan produk-produk yang akan dihapuskan tarifnya pada waktu implementasi, antara lain, binatang hidup, ikan, sayuran, minyak sawit, produk kimia, kertas, tekstil dan produk tekstil, kulit, produk kayu. “Dalam kerjasama ekonomi, telah disahkan 6 proyek dalam kerangka AKFTA untuk diimplementasikan,”tukasnya.

Begitu pula dengan adanya ASEAN-India, Indonesia sangat berkepentingan. India dengan jumlah penduduk 1.027 juta merupakan potensi pasar yang besar bagi Indonesia. Penguasaan teknologi informasi dan pasar farmasi oleh India bisa dimanfaatkan Indonesia dalam rangka transfer teknologi.

“Produk ekspor utama Indonesia seperti CPO dan Process Palm Oil ke India, tarif bea masuknya tidak pernah turun. Dengan FTA minimal akan turun, walaupun belum sesuai dengan keinginan Indonesia,”ujarnya.

DJATMIKO menambahkan ASEAN-FTA dari negara lainnya seperti Jepang, Uni Eropa, Australia-New Zealand, juga memberikan manfaat tersendiri bagi kepentingan ekonomi nasional di masa depan. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
30o
Kurs