Meski harga minyak dunia mencapai US$ 90 per barel, namun tidak perlu disikapi secara reaktif. Kenaikan harga minyak di level, diharapkan tidak akan berlangsung lama.
Hal tersebut disampaikan SONI WIBISONO Peneliti Ekonomi Utama BI Surabaya, Selasa (23/10), menyikapi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap neraca pembayaran.
Pada suarasurabaya.net, SONI mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak positif terhadap penerimaan ekspor Indonesia. Tapi tetap harus hati-hati supaya tidak berpengaruh terhadap kenaikan harga barang impor.
“Dengan demikian, surplus dari neraca pembayaran tidak terlalu tinggi. Kenaikan harga minyak dunia lebih banyak dipicu antara keseimbangan suplai dan permintaan. Untuk itu, kita berharap permintaan jangan sampai terlalu tinggi sehingga harga minyak dunia tidak melonjak lagi,”ujarnya.
SONI menilai memang BI sampai sekarang belum melakukan perhitungan dan dampak harga minyak dunia di level US$ 90 per barel. BI baru mengkaji harga minyak tertinggi di level US$ 80 per barel.
Saat harga minyak dunia berada di level US$ 80 per barel, dampak terhadap neraca pembayaran masih positif, di neraca minyaknya negatif karena impor BBM Indonesia cukup banyak dan neraca gas positif. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

