Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur menyurati 2 menteri. Ini disebabkan harga gabah di Bojonegoro anjlok.
Harga gabah di Bojonegoro awal musim panen ini anjlok tinggal Rp 1600 per kg. Akibatnya, ribuan petani asal daerah penghasil ledre ini menjual ke tangan tengkulak dengan harga yang mencekik.
Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur SARIF USMAN seperti dilaporkan DEWI reporter Radio Suara Bojonegoro Indah dalam Jaring Radio Suara Surabaya, Kamis (29/03), akhirnya turut bicara menyikapi lambannya pemerintah mengatasi masalah petani terkait dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang transaksinya melalui Bulog.
Pemerintah harus secepatnya mengambil langkah agar para petani tertolong. Ribuan para petani masuk masa panen ini tidak lagi berwajah segar karena keletihan terus menghantui kehidupan mereka seperti keluhan yang diungkapkan IWAN SISWOYO petani sal Deru Kecamatan Sumber Rejo.
Harga gabah kering sawah (GKS) di Bojonegoro merosot tinggal Rp 1600 per kg dari harga sebelumnya mencapai Rp 2500 per kg.
SARIF yang juga Ketua KTNA Bojonegoro mendesak pemerintah dengan bersurat kepada Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Bulog untuk menetapkan HPP gabah yang baru dengan merubah Inpres nomor 13/2005. HPP masih berlaku melalui Inpres tersebut.
Harga GKS 1730 per kg sudah tidak rasional lagi. Sebab, diperhitungkan biaya tanam tahun 2005 berkisar Rp 4 juta per hektar, namun biaya tanam kali ini naik mencapai Rp 6 juta per hektar. Logikanya, pemerintah harus menaikkan HPP menjadi Rp 2100 per kg. SARIF juga minta Bulog Bojonegoro segera pro aktif.
NOW ON AIR SSFM 100

