Penutupan akses lalu lintas di exit Tol Porong dan Tol Sidoarjo oleh warga Perum TAS Kamis (22/02) kemarin, menyebabkan sekitar 500 truk tronton/kontainer yang terjebak di tol Surabaya-Gempol. Dampaknya, truk tronton/kontainer terlambat masuk ke pelabuhan.
ISDARMAWAN ASRIKAN Ketua GPEI (Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia) Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Jumat (23/02), mengatakan, banyaknya truk tronton/kontainer yang terjebak itu masih dalam perkiraan mengingat sampai saat ini GPEI masih menginvetarisir.
“Saya sendiri memiliki 5 truk tronton yang sempat terjebak saat kejadian kemarin. Otomatis terjadi kerugian di transportasi karena harus memutar kembali. Rata-rata per truk minta tambahan biaya di kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu sama seperti saat lumpur Lapindo menghambat akses tol Surabaya-Gempol. Rata-rata jumlah truk tronton/kontainer yang memanfaatkan akses tol Surabaya-Gempol sekitar 1000 truk,”ujarnya.
Selain itu, keterlambatan masuknya truk ke pelabuhan, kata ISDARMAWAN, juga menambah biaya untuk proses bongkar muat karena ektra kuli angkut. Hanya saja, belum tahu total biaya tambahan.
ISDARMAWAN mengatakan gangguan transportasi di jalur tol Surabaya-Gempol seharusnya cepat diantisipasi masyarakat. GPEI Jatim sendiri sudah lama melayangkan surat ke pemerintah sejak munculnya lumpur Lapindo.
“Tiga usulan yang kita sampaikan yakni relokasi akses tol Surabaya-Gempol, perbaikan akses jalan di Japanan-Krian termasuk pelebaran jembatan. Kenyataannya, perbaikan akses jalan belum terlihat sampai sekarang. Usulan ketiga, optimalisasi pelabuhan Banyuwangi agar transportasi ke wilayah timur bisa tetap berjalan,”paparnya.
NOW ON AIR SSFM 100

