Selasa, 17 Februari 2026

Posisi Hilal di DIY Belum Penuhi Kriteria MABIMS untuk Awal Ramadan

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Proses pemantauan hilal di Twin Tower UINSA Surabaya. Cuaca mendung membuat hilal tak terlihat di kawasan tersebut, Jumat (28/2/2025). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Badan Hisab Rukyat (BHR) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan bahwa hilal awal Ramadan 1447 Hijriah tidak bisa terlihat di wilayah ini karena posisi bulan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, Selasa (17/2/2026).

Mutoha Arkanuddin Ketua BHR DIY menjelaskan bahwa berdasarkan data astronomi di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangtritis, Kabupaten Bantul, ketinggian hilal tercatat minus 1,5 derajat.

“Untuk Yogyakarta di Bukit Syekh Bela Belu, ketinggian hilal minus 1,5 derajat, jadi masih di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Artinya, bulan terbenam lebih dulu sehingga praktis hilal tidak mungkin bisa disaksikan,” ujar Mutoha.

Mutoha menambahkan, posisi hilal tersebut belum memenuhi standar MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) untuk penetapan awal Ramadan, yakni ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Meski hilal tidak terlihat secara kasatmata, observasi tetap digelar sebagai bagian dari mekanisme kalender Hijriah di Indonesia. Rukyatul hilal di DIY dijadwalkan di POB Bukit Syekh Bela Belu, Bantul, Selasa sore, bekerja sama dengan BHR DIY.

“Apapun hasilnya, yang penting nanti ada mekanisme pelaporan dari pelaku rukyat karena pemerintah mengadopsi semua kriteria, baik hisab maupun rukyat,” kata Mutoha dilansir dari Antara.

Kegiatan rukyatul hilal di DIY tidak hanya berfungsi untuk pelaporan resmi, tetapi juga sebagai sarana edukasi astronomi. Peserta, termasuk mahasiswa, pelajar, dan komunitas astronomi, mendapatkan pemaparan teori visibilitas hilal serta latihan penggunaan instrumen observasi.

“Yang kita sampaikan lebih kepada hal-hal yang sifatnya pendidikan dan sosialisasi. Untuk informasi, sudah kita informasikan bahwa hari ini mustahil bisa melihat hilal,” jelas Mutoha.

Sejumlah pihak ikut terlibat, mulai dari BMKG, ormas Islam, klub astronomi, hingga perwakilan kampus di DIY.

Nurhuda Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Pemberdayaan Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY menegaskan bahwa keputusan resmi awal Ramadan menunggu laporan rukyat hilal dan sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama RI.

“Masyarakat diimbau menyikapi perbedaan, bila terjadi, dengan bijaksana, saling menghormati, dan menjaga kerukunan,” katanya. (ant/ily/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 17 Februari 2026
27o
Kurs