Nilai tukar rupiah kembali menurun pada penutupan perdagangan Senin (2/3/2026), melemah 81 poin atau 0,48 persen menjadi Rp16.868 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.787 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi menekan ekonomi Indonesia melalui lonjakan harga energi dan gejolak pasar keuangan global.
Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank menjelaskan bahwa perhatian pasar kini terfokus pada Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dan gas.
“Ketika tensi meningkat, perhatian pasar segera mengarah ke Selat Hormuz karena arus tanker bisa melambat atau tertahan, sementara pelayaran dan logistik ikut terganggu,” ujar Josua.
Eskalasi terbaru menimbulkan dampak langsung pada rantai pasok energi. Indikasi pengapalan minyak dan gas alam cair yang tertahan di Hormuz, penundaan aktivitas pelabuhan utama, serta perusahaan pelayaran besar yang menghindari Teluk Persia membuat biaya angkut dan asuransi melonjak.
“Kenaikan biaya asuransi dan pengalihan rute sudah cukup menambah dorongan inflasi energi global,” kata Josua dilansir dari Antara.
Lonjakan harga minyak global tercatat cukup tajam, sempat menembus 82 dolar AS per barel, meskipun kini berada di sekitar 76,4 dolar AS per barel. Dalam skenario terburuk, penutupan penuh Selat Hormuz diperkirakan dapat mendorong harga minyak melebihi 100 dolar AS per barel, dengan rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang 2026 diproyeksi sekitar 85 dolar AS per barel.
Tekanan harga energi ini berdampak luas. Hormuz merupakan titik kritis bagi perdagangan minyak dan gas, sehingga gangguan kecil cepat menimbulkan kenaikan biaya logistik global. “Proyeksi tarif sewa tanker minyak bisa mendekati 300 ribu dolar AS per hari, menunjukkan besarnya tekanan biaya angkut energi saat risiko di Hormuz meningkat,” ungkap Josua.
Di pasar keuangan, ketegangan mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke aset safe haven, yang membuat dolar AS menguat. Kombinasi ini menekan mata uang negara pengimpor energi, termasuk rupiah, sekaligus meningkatkan premi risiko dan biaya pendanaan negara berkembang.
Bagi Indonesia, konsekuensi paling cepat adalah meningkatnya biaya impor bahan bakar karena negara ini merupakan pengimpor bersih minyak. Akibatnya, neraca perdagangan migas tertekan, rupiah melemah, dan inflasi energi, ongkos transportasi, serta harga barang impor berpotensi naik.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan pola yang konsisten: pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi negara tenor 10 tahun, dan koreksi pasar saham saat sentimen global memburuk. Tekanan eksternal ini kemudian menimbulkan dilema kebijakan domestik. Jika harga minyak melonjak di atas asumsi anggaran, pemerintah harus memilih antara menahan harga BBM dengan konsekuensi subsidi membengkak atau menaikkan harga, yang akan menekan daya beli masyarakat.
Secara fiskal, sensitivitas cukup besar. Setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak acuan berpotensi menambah belanja sekitar Rp10 triliun, sementara penerimaan hanya bertambah sekitar Rp3 triliun, sehingga defisit anggaran bisa melebar.
Josua menekankan pentingnya langkah mitigasi, termasuk menjaga stabilitas rupiah, pasokan devisa, penguatan ekspor, serta bantalan fiskal dan bantuan sosial bagi kelompok rentan. “Ruang bantalan anggaran dan penguatan jaring pengaman sosial menjadi kunci agar guncangan energi tidak berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam,” ujarnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini juga menunjukkan pelemahan ke Rp16.848 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.779 per dolar AS. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
