Rabu, 4 Maret 2026

IHSG Tertekan Konflik Timur Tengah, OJK Disarankan Perkuat Mitigasi Risiko Perlemahan

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi - Pekerja melihat layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia. Foto: ANTARA

Elvi Diana konsultan dan perencana keuangan menyarankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat mitigasi risiko terkait potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) imbas eskalasi konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS).

Tercatat pada perdagangan Rabu pagi (4/3/2026), IHSG turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke 7.896,38. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 melemah 3,29 poin atau 0,41 persen ke 802,31.

“Elastisitas pasar modal Indonesia terhadap dinamika global cukup tinggi. Jika eskalasi konflik terus berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ini harus menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko,” kata Elvi seperti dilansir Antara, Rabu (4/2/2026).

Katanya pelemahan dipicu sikap Investor yang menghindari aset berisiko (risk-off). Sikap ini diambil investor untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah dunia.

Elvi menilai dampak konflik geopolitik biasanya merambat melalui lonjakan harga minyak dunia, tekanan pada nilai tukar rupiah, dan capital outflow (keluarnya aliran dana asing) dari pasar negara berkembang.

Kondisi ini berpotensi memperburuk sentimen investor dan menekan saham domestik.

Konsultan dan perencana keuangan tersebut menekankan pentingnya koordinasi OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga kepercayaan pasar.

“Stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. OJK perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal serta menyiapkan kebijakan responsif untuk meredam gejolak,” ujarnya.

Investor ritel diimbau tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek.

Menurutnya, diversifikasi portofolio dan disiplin investasi jangka panjang tetap menjadi kunci di tengah volatilitas.

“Pasar modal memang sensitif terhadap sentimen global, tetapi keputusan investasi harus tetap berbasis analisis fundamental dan manajemen risiko yang baik,” ujarnya.

Elvi berharap langkah cepat dan terukur OJK bisa menjaga stabilitas pasar modal di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks. (ant/lea/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Rabu, 4 Maret 2026
31o
Kurs