Kamis, 5 Maret 2026

Interaktif dan Organik Jadi Kunci Media Lokal Bertahan di Tengah Gempuran Influencer

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Nanda Rizky Amelia CEO Increa Media saat media gathering, Rabu (4/3/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Di tengah dominasi influencer dan konten kreator dalam strategi pemasaran digital beberapa tahun terakhir, media lokal tetap punya posisi kuat.

Kuncinya bukan sekadar jumlah audiens, tapi interaktivitas dan kedekatan organik dengan pendengar atau pembaca.

Nanda Rizky Amelia CEO Increa Media mengungkapkan, saat pandemi Covid-19, anggaran brand banyak dialihkan ke influencer sebagai ujung tombak kampanye karena fleksibel dan mampu bekerja sepenuhnya secara online.

“Pada saat Covid, influencer itu bisa dibilang jadi ‘sultan’. Budget berapapun brand oke, karena semua aktivitas serba online,” ujarnya.

Fenomena itu akhirnya membentuk aspirasi generasi muda yang ingin bercita-cita menjadi influencer dan konten kreator.

Tapi, lanskap itu mulai berubah sejak 2023, ketika aktivitas offline kembali marak. Bangkitnya konser, event komunitas, hingga berbagai aktivitas tatap muka membuat peran media mainstream kembali menguat.

Dia menilai, media punya kapasitas menggelar event berskala besar yang tidak bisa dilakukan oleh influencer secara mandiri.

“KOL atau influencer tidak bisa membuat event yang se-huge media. Di situ ada plus minusnya. Sekarang proporsinya lebih seimbang,” jelasnya.

Dalam konteks branding jangka panjang, media unggul dari sisi reputasi dan keberlanjutan program.

Brand juga menilai, event yang memiliki kredibilitas dan bisa digelar berulang kali (repeat event), lebih menjanjikan dibanding sekadar viral sesaat.

Di tengah dinamika itu, media lokal punya peluang besar kalau mampu mempertahankan kekuatan interaktifnya. Salah satu contoh yang dia sorot adalah Suara Surabaya.

Menurutnya, interaktivitas tinggi membuat iklan yang masuk tidak terasa mengganggu.

Misalnya program Flash News yang dikomersialisasikan karena sudah menjadi bagian organik dari kebutuhan pendengar.

“Karena interaktifnya tinggi, ketika ada ‘Flash News dipersembahkan oleh…’, itu tidak terasa annoying. Justru menyatu dengan programnya,” jelas Nanda.

Dia menilai, kekuatan itu jadi pembeda media lokal di tengah gempuran influencer. Bukan sekadar menjual slot iklan, tetapi membangun ekosistem komunikasi yang dipercaya audiens.

Kombinasi antara reputasi, interaktivitas, serta kemampuan menghadirkan event berskala besar, media lokal akan tetap relevan dan strategis bagi brand.

Selain itu, perubahan perilaku audiens juga memengaruhi strategi komunikasi brand. Jika sebelumnya hard selling jadi pola umum, kini audiens semakin skeptis terhadap promosi yang terlalu gamblang.

“Sekarang bukan lagi soal diskon atau potongan harga. Brand justru menempel di cerita. Soft selling dan storytelling lebih efektif,” katanya.

Konsep itu serupa dengan tren “spill product” yang populer di Korea Selatan, di mana produk tidak dijual secara terang-terangan, melainkan muncul sebagai bagian dari alur cerita. Audiens kemudian mencari tahu sendiri produk tersebut. Pola serupa disebut mulai mengarah ke pasar Indonesia.

Meski begitu, viralitas tetap menjadi elemen penting. Nanda menyebut istilah “no viral, no justice” masih relevan di industri marketing. Namun, cara mencapainya kini berbasis pengalaman audiens.(lta/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 5 Maret 2026
24o
Kurs