Kementerian Keuangan menyebut berbagai aktivitas selama periode Ramadan dan Idulfitri mendorong terjaganya inflasi.
Febrio Kacaribu Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan menilai, hal ini terjadi karena pemerintah memberikan berbagai insentif.
Dalam catatannya, inflasi pada Maret 2026 mengalami penurunan jadi 3,48 persen (yoy), dari bulan Februari yang mencapai 4,76 persen (yoy).
“Terjaganya inflasi selama periode Ramadan dan Idulfitri turut didukung upaya Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti insentif diskon transportasi, bantuan pangan, serta pengendalian inflasi dengan operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi,” tambah Febrio dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/3/2026).
Penurunan terjadi pada seluruh komponen, terutama administered price dan volatile food.
Inflasi administered price turun ke 6,1 persen (yoy) dari 12,7 persen (yoy), dipengaruhi berkurangnya efek diskon listrik awal 2025. Sementara inflasi volatile food melambat ke 4,2 persen (yoy), di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Kemudian permintaan komoditas telur, daging ayam, ikan segar, dan daging sapi meningkat seiring momen Ramadan dan Idulfitri. Turunnya harga emas turut mendorong penurunan inflasi inti dari 2,6 persen (yoy) menjadi 2,5 persen (yoy).
Di sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut. Neraca perdagangan pada Februari 2026 mencatat surplus USD1,27 miliar, didukung oleh ekspor yang tetap tumbuh positif hingga USD22,17 miliar.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, surplus perdagangan tercatat sebesar USD2,23 miliar dengan total ekspor mencapai USD44,32 miliar atau meningkat 2,19 persen (ctc), mencerminkan daya saing yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
Kinerja tersebut didukung komoditas unggulan, seperti besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO), serta bahan bakar mineral yang tetap memberikan kontribusi signifikan.
Sementara itu, impor tumbuh 14,44 persen (ctc), didominasi bahan baku dan barang modal, yang mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan investasi domestik. Besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO), serta bahan bakar mineral yang tetap memberikan kontribusi signifikan.
Pemerintah terus memantau dinamika geopolitik global dan memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Fundamental eksternal dijaga melalui kinerja sektor eksternal yang solid dan pengelolaan fiskal yang prudent.
Berbagai bauran kebijakan dioptimalkan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat ketahanan ekonomi, salah satunya melalui penguatan perbaikan iklim investasi. Caranya dengan optimalisasi kanal Debottlenecking Satgas P2SP, untuk menyelesaikan berbagai hambatan investasi secara cepat dan terkoordinasi.
Di sisi lain, strategi Pemerintah diarahkan pada penguatan kemandirian energi nasional, serta pemanfaatan momentum transformasi digital dan perkembangan budaya kerja sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi ekonomi. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.(lea/kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
