Luiz Inacio Lula da Silva Presiden Brasil tegas menuding Amerika Serikat (AS) mengarang alasan dan cerita yang tidak benar untuk melancarkan serangan militer ke Iran. Pernyataan itu disampaikan Lula dalam wawancara dengan media di Negara Bagian Ceará, Brasil timur laut, Rabu (1/4/2026).
Menurut Lula, keterlibatan AS dalam konflik tersebut merupakan “perang yang tidak perlu” dan didasarkan pada klaim yang tidak terbukti.
“AS terlibat dalam perang yang tidak perlu di Iran, mengklaim bahwa Iran memiliki senjata nuklir atau mereka berupaya membuat senjata nuklir. Itu bohong!” ujarnya seperti dikutip Xinhua, Kamis (2/4/2026).
Lula juga menyoroti pola serupa dalam sejarah kebijakan luar negeri AS, termasuk invasi ke Irak yang didasarkan pada dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal yang kemudian tidak pernah ditemukan.
“Itu hanya dalih dan perang tak pernah menyelesaikan apa pun,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Lula turut mendesak Dewan Keamanan PBB untuk melakukan evaluasi rasional terhadap konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Ia menilai eskalasi tersebut tidak hanya berdampak secara geopolitik, tetapi juga langsung dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Brasil.
Salah satu dampak yang disorot adalah kenaikan harga energi akibat terganggunya jalur distribusi global, khususnya setelah ketegangan di Selat Hormuz.
Lula mengungkapkan bahwa Brasil kini menghadapi tekanan kenaikan harga bahan bakar, terutama solar. Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah Brasil telah mengambil sejumlah langkah, seperti menurunkan pajak bahan bakar serta memperketat pengawasan pasar guna melindungi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sebagai informasi, konflik memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut berdampak luas, mulai dari terganggunya pelayaran global, lonjakan harga minyak, hingga guncangan pada perekonomian dunia. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
