Korea Selatan dan Prancis sepakat memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas jalur energi global, termasuk mengamankan pelayaran di Selat Hormuz yang kian terdampak konflik Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara Lee Jae Myung Presiden Korea Selatan dan Emmanuel Macron Presiden Prancis di Seoul pada Jumat (3/4/2026). Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas gangguan rantai pasok energi global akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
“Presiden Macron dan saya sepakat untuk berbagi strategi kebijakan dalam mengatasi krisis ekonomi dan energi yang dipicu perang di Timur Tengah, serta bersama-sama mengurangi ketidakpastian ekonomi global,” ujar Lee dilansir dari Yonhap.
Selain pengamanan jalur energi, kedua negara juga berkomitmen memperkuat kerja sama di sektor energi berkelanjutan. Fokus diarahkan pada pengembangan tenaga nuklir dan angin lepas pantai sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi jangka panjang.
“Kami menegaskan komitmen untuk memperluas kolaborasi di sektor energi, sekaligus memastikan jalur transportasi maritim tetap aman, khususnya melalui Selat Hormuz,” kata Lee.

Macron menambahkan, koordinasi internasional menjadi kunci untuk meredakan konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
“Kami perlu bekerja sama untuk membantu menstabilkan situasi di Timur Tengah dan memastikan jalur vital seperti Selat Hormuz tetap terbuka,” ujar Macron.
Selain isu keamanan energi, kedua negara sepakat meningkatkan hubungan ekonomi dengan target perdagangan bilateral mencapai 20 miliar dolar AS pada 2030, naik dari sekitar 15 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.
Untuk mendukung target tersebut, Seoul dan Paris menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) yang mencakup berbagai sektor strategis, termasuk kecerdasan buatan, semikonduktor, dan teknologi kuantum. Kedua negara juga sepakat membentuk komite gabungan tingkat menteri di bidang sains dan teknologi.
Kerja sama juga diperluas ke sektor rantai pasok mineral penting, dengan tujuan menggabungkan kekuatan manufaktur Korea Selatan dan kemampuan teknologi serta pengolahan Prancis.
Di sektor energi, perusahaan Korea Hydro & Nuclear Power menjalin kerja sama dengan perusahaan Prancis seperti Orano, Framatome, serta EDF untuk pengembangan energi nuklir dan proyek pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Yeonggwang.
Lee menyatakan kerja sama ini diharapkan mampu menjamin pasokan bahan baku energi serta membuka peluang ekspansi bersama ke pasar global.
Selain ekonomi dan energi, kedua negara juga memperkuat kolaborasi di bidang pertahanan, antariksa, serta budaya. Nota kesepahaman di sektor warisan budaya turut ditandatangani sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral.
Dalam pembahasan geopolitik, Lee juga memaparkan upaya Seoul untuk melanjutkan dialog dengan Korea Utara demi menjaga stabilitas di Semenanjung Korea. Macron menyatakan dukungan penuh Prancis terhadap upaya tersebut.
“Kami memiliki pemahaman bersama bahwa perdamaian di Semenanjung Korea memiliki dampak global,” kata Lee. (saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
