Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah antisipatif sejak dini untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
“Bulan Mei nanti kita menghadapi Hari Raya Idul Adha. Tentu ini juga akan ada potensi kenaikan permintaan. Oleh karena itu kami jauh-jauh hari juga akan bergerak untuk mengendalikan harga,” kata I Gusti Ketut Astawa Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Selasa (7/4/2026).
Ia menyatakan persiapan langkah antisipatif ini juga untuk menjaga stabiltas komoditas daging kurban.
“Mudah-mudahan secara umum bisa kita kendalikan dengan baik, khususnya di sisi harga daging kurbannya,” katanya.
Mengutip dari Antara, penguatan pengawasan harga pangan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, salah satunya lewat Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan yang telah berjalan sejak sebelum Ramadan lalu.
Ketut menilai harga pangan mulai stabil seiring penurunan inflasi dan didukung pembentukan Satgas Saber Pangan yang melakukan pengawasan luas di berbagai daerah.
Pengawasan tersebut telah dilakukan di sekitar 74 ribu titik sejak 5 Februari hingga 4 April 2026. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi atas peran aktif Polri dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
“Hasilnya kita bisa melihat untuk inflasi pangan, kami lihat ada penurunan dari inflasi pangan, month to month (bulanan) ataupun year-on-year (tahunan),” tuturnya.
Ketut memaparkan data inflasi pangan (volatile food) pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,58 persen secara bulanan atau menurun dari 2,50 persen pada bulan sebelumnya. Sementara secara tahunan, inflasi pangan juga turun menjadi 4,24 persen dari 4,64 persen.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat kesiapan pasokan guna menghadapi potensi peningkatan permintaan pada momentum Idul Adha sekaligus dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mempengaruhi wilayah selatan ekuator.
Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) menjadi salah satu strategi utama. Adapun per 6 April 2026, stok CPP untuk komoditas beras mencapai 4,4 juta ton, yang merupakan merupakan stok beras pemerintah tertinggi.
Sementara itu, stok CPP untuk komoditas jagung pakan terhitung ada sebanyak 168 ribu ton, minyak goreng 120 ribu kiloliter, gula pasir 49 ribu ton, daging sapi 8.000 ton, daging kerbau 3.000 ton, serta masing-masing 39 ton dan 17 ton untuk daging ayam dan telur ayam.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tekanan inflasi selama periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini relatif lebih terkendali. Secara historis, momen tersebut kerap mendorong lonjakan harga, tetapi pada 2026 peningkatannya tidak setinggi tahun sebelumnya.
“Tahun 2026 di bulan Maret itu ada momen puasa dan Lebaran, ini inflasinya tidak setinggi inflasi tahun lalu,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
“Artinya harga yang diterima oleh masyarakat, kenaikannya tidak setinggi dibandingkan dengan harga yang pada saat Ramadan dan Lebaran tahun lalu,” tambahnya.
Berdasarkan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu pertama April, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga tercatat semakin menurun. Sebaliknya, daerah yang mengalami penurunan harga justru menunjukkan peningkatan.
Secara rinci, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH untuk komoditas daging ayam ras tercatat menjadi 148 daerah, turun dari minggu sebelumnya yang mencapai 237 daerah. Pada komoditas telur ayam ras, jumlahnya menjadi 145 daerah setelah sebelumnya sempat menyentuh 256 daerah.
Untuk cabai rawit, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH juga mengalami penurunan menjadi 130 daerah, dibandingkan minggu sebelumnya sebanyak 200 daerah.
Sementara itu, daging sapi menjadi komoditas dengan penurunan jumlah daerah kenaikan IPH paling signifikan. Pada minggu pertama April tercatat di 80 daerah, setelah pada minggu sebelumnya mencapai 186 daerah. (ant/mar/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
