Nilai tukar rupiah melemah seiring sentimen domestik yang masih sangat lemah pada Selasa (14/4/2026) pagi.
Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.130 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.
“Pelemahan ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah, yang di antaranya kekhawatiran akan defisit anggaran, downgrade outlook pertumbuhan ekonomi, cadev (cadangan devisa) yang terus menurun, surplus perdagangan yang semakin kecil,” kata Lukman Leong Analis mata uang Doo Financial Futures, Selasa (14/4/2026).
Mengutip dari Antara, per Maret 2026, defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tercatat melonjak sekitar Rp240,1 triliun atau naik 140 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Untuk posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2026 yang menyentuh angka 151,9 miliar dolar AS.
Lalu terkait neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026, tercatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor mencapai 22,17 miliar dolar AS dan impor sebesar 20,89 miliar dolar AS.
Surplus perdagangan juga sedikit meningkat menjadi 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026 dari 0,95 miliar dolar AS, diduga karena ditopang oleh penurunan impor migas.
Sementara itu, untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia memperkirakan berada di level 4,7 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,8 persen.
Meski dibayangi sejumlah sentimen negatif, nilai tukar rupiah dinilai masih berpeluang menguat seiring membaiknya sentimen pasar global serta penurunan harga minyak ke bawah kisaran 100 dolar AS per barel.
“Investor menaruh berharapan pada perundingan damai (AS-Iran) yang diharapkan masih berlanjut,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.050-Rp17.150 per dolar AS.(ant/mar/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
