Rabu, 15 April 2026

Trump Sebut Perundingan AS-Iran Bisa Dilanjutkan di Pakistan pada Pekan Ini

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Donald Trump Presiden AS pergi setelah berbicara dengan wartawan selama konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026) di Washington. Foto: AP

Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpeluang kembali dilanjutkan dalam waktu dekat. Donald Trump Presiden AS menyebut bahwa perundingan dapat digelar kembali di Pakistan dalam dua hari ke depan.

Pernyataan tersebut muncul setelah negosiasi akhir pekan lalu di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.

Kegagalan itu bahkan memicu Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang semakin meningkatkan tensi geopolitik di kawasan.

“Seharusnya Anda tetap berada di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami cenderung menuju ke sana,” kata Trump dalam wawancara dengan The New York Post, Selasa (14/4/2026) waktu setempat.

Sejumlah pejabat dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran juga mengindikasikan bahwa tim perunding kedua negara kemungkinan kembali ke Pakistan pekan ini. Namun, seorang sumber senior dari Iran menyebutkan belum ada jadwal pasti yang ditetapkan.

Meski retorika keras dilontarkan Teheran atas blokade yang diberlakukan AS, sinyal berlanjutnya jalur diplomasi memberi dampak positif terhadap pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan turun di bawah 100 dolar AS per barel pada Selasa, seiring harapan meredanya konflik.

Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Iran diketahui menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas global. Penutupan ini berdampak besar terhadap rantai pasok energi dunia. Konflik tersebut juga telah menewaskan sekitar 5.000 orang.

Dilansir dari Reuters, perundingan yang digelar di Islamabad sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan, sehingga menimbulkan keraguan atas keberlangsungan gencatan senjata yang saat ini masih menyisakan waktu satu pekan.

Salah satu isu utama yang menjadi penghambat adalah program nuklir Iran. Amerika Serikat mengusulkan penghentian seluruh aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran hanya bersedia menghentikan selama tiga hingga lima tahun, menurut sumber yang mengetahui jalannya negosiasi.

Selain itu, Washington juga menuntut agar seluruh material nuklir yang telah diperkaya dipindahkan keluar dari Iran. Di sisi lain, Teheran menginginkan pencabutan sanksi internasional sebagai bagian dari kesepakatan.

Sumber yang terlibat dalam perundingan menyebutkan komunikasi informal pasca-negosiasi telah menunjukkan kemajuan dalam mempersempit perbedaan kedua pihak. Hal ini membuka peluang tercapainya kesepakatan dalam putaran perundingan berikutnya.

Namun, bentuk akhir kesepakatan masih belum jelas, mengingat kompleksitas perjanjian nuklir sebelumnya pada 2015 yang melibatkan banyak negara dan pengawasan ketat dari International Atomic Energy Agency. Kesepakatan baru juga diperkirakan membutuhkan mekanisme verifikasi yang komprehensif. (saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 15 April 2026
33o
Kurs