Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pendalaman kasus dugaan kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) atau biasa disebut joki ujian, yang terungkap menjalankan aksi di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pelaku diduga menjalankan aksinya saat pelaksaan UTBK hari pertama pada Selasa (21/4/2026) kemarin.
AKBP Edy Herwiyanto Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya membenarkan adanya pelimpahan kasus dugaan joki UTBK Unesa ke Polrestabes Surabaya.
“Iya, benar (dugaan joki UTBK Unesa dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya,” katanya, Rabu (22/4/2026).
Meski begitu, Edy belum bisa menyampaikan banyak hal. Karena hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalamam terkait motif hingga modus operandi yang dilakukan terduga pelaku.
“Mohon waktu, masih kami proses,” tambahnya.
Sebelumnya, kasus dugaan joki UTBK Unesa diungkap Kementerian Pendidikam Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam kanal Youtube, Selasa (21/4/2026). Sejumlah kampus di Surabaya, terindikasi menjadi lokasi praktik joki UTBK. Salah satunya, Unesa.
Martadi Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa menjelaskan, terbongkarnya dugaan praktik joki ini terlihat dari foto yang digunakan pelaku.
Dia menyebut, foto dicurigai digunakan pada dua kali pelaksaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yakni, tahun 2025 dan 2026.
“Memang kemudian kita menemukan ada potensi sebuah foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen. Foto ini digunakan di dua pelaksaan yang berbeda. Tahun yang lalu dia sudah gunakan untuk tes yang tempatnya di Unair. Tetapi saat itu yang bersangkutan tidak datang,” bebernya saat diwawancarai awak media, Rabu (22/4/2026).
Joki pria itu berinisial H, usia sekitar 23-24 tahun, mengaku asal Surabaya.
“Awalnya bilang Madura, sesuai data pengguna joki itu, kemudian kita tes tanya pakai Bahasa Madura tidak bisa menjawab,” bebernya.
H tidak membawa dokumen pribadinya, hanya membawa KTP dan ijazah atas nama pengguna joki.
Kemudian Unesa menelusuri ke pihak sekolah terkait, membenarkan ijazah itu benar namun berbeda foto.
“Tapi hebatnya ijazah yang dibawa dengan foto yang diganti itu stempel basah. Sehingga setelah kita telusuri dan kita yakin bahwa yang bersangkutan sudah ada pengakuan,” ungkapnya.
Setelah joki mengakui perbuatannya, Unesa melaporkan praktik kecurangan ini ke pusat dan kepolisian.
Berdasarkan pengakuan H, dia membantu calon mahasiswa asal Madura yang mendaftar jurusan kedokteran di salah satu PTN Jawa Timur.
“Yang kami adukan adalah mereka melakukan tes, dan menyalahi ketentuan tes menggunakan data palsu dan seterusnya. Kemudian kalau nanti di kepolisian lebih lanjut akan meneliti tentang bagaimana pemalsuannya dan seterusnya itu ranah berikutnya ya, sehingga yang kami adukan itu,” bebernya.
Soal pengaduan untuk pengguna joki, kata Martadi, kampus memastikan yang bersangkutan tidak akan bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) manapun.
“Kami belum bisa mengadukan pihak yang di joki ya, karena kami belum punya dasar. Kalau kemudian nanti polisi mengembangkan lebih lanjut ya, untuk didalami dan kemudian dua-duanya ditemukan tindak pidana, ya tidak menutup kemungkinan akan berimbas bukan hanya pada yang menjadi joki, tetapi juga orang-orang yang memesan ya, kepada joki untuk masuk tes perguruan tinggi,” paparnya.
Temuan lainnya, dalam motor yang dipakai H, ada tumpukan blangko KTP siap cetak.(kir/rid)
NOW ON AIR SSFM 100
