Sebuah studi psikologi terbaru mengungkap bahwa anak perempuan yang dikenal blak-blakan atau kerap dianggap “terlalu terus terang” justru memiliki peran penting dalam membuka komunikasi yang lebih sehat di dalam keluarga.
Melansir Psychology Today, Kamis (23/4/2026), dalam kajian mengenai peran anak perempuan atau daughtering, peneliti menemukan bahwa kontribusi anak perempuan dalam keluarga tidak hanya sebatas tugas yang terlihat, seperti membantu atau merencanakan kegiatan keluarga. Lebih dari itu, mereka juga menjalankan peran emosional dan kognitif yang sering kali tidak terlihat.
Peran tersebut mencakup kemampuan membaca dinamika keluarga, mengantisipasi kebutuhan anggota lain, hingga menjaga keseimbangan emosi dalam hubungan keluarga. Namun, tidak semua bentuk kontribusi hadir dalam wujud menjaga keharmonisan secara halus.
Sebagian anak perempuan justru hadir sebagai sosok yang berani menyampaikan hal-hal yang selama ini dihindari dalam keluarga. Mereka mengungkap ketegangan, membicarakan isu sensitif, hingga mempertanyakan pola hubungan yang dianggap tidak sehat.
Dalam studi ini, tipe tersebut disebut sebagai “porcupine daughter” atau anak perempuan yang “berduri”. Dengan kata lain, yakni mereka yang kerap dianggap sulit, terlalu kritis, atau memicu konflik.
Meski sering mendapat label negatif, pendekatan ini dinilai memiliki fungsi penting. Dengan menyuarakan hal yang selama ini dipendam, mereka sebenarnya menghadirkan informasi baru dalam sistem keluarga yang cenderung mempertahankan pola lama.
Dalam perspektif teori sistem keluarga yang dikembangkan oleh Murray Bowen, psikiater Amerika perintis terapi keluarga yang mengembangkan Teori Sistem Keluarga (Teori Bowen) pada 1950-an, keluarga merupakan satu kesatuan emosional yang cenderung menjaga stabilitas.
Ketika muncul ketegangan, anggota keluarga biasanya memilih cara-cara yang sudah familiar untuk meredam konflik, seperti menghindari pembahasan atau menyesuaikan diri.
Di sinilah peran anak perempuan yang blak-blakan menjadi krusial. Mereka memutus pola lama dengan mengangkat isu yang selama ini diabaikan, meskipun hal tersebut kerap menimbulkan ketidaknyamanan di awal.
Peneliti menilai, ketidaknyamanan tersebut justru dapat menjadi pemicu perubahan positif dalam jangka panjang. Dengan adanya dorongan untuk membicarakan hal-hal yang sensitif, keluarga memiliki peluang untuk berkembang menjadi lebih terbuka dan jujur.
Fenomena ini juga tidak terbatas pada satu budaya tertentu. Studi menunjukkan bahwa dinamika serupa terjadi di berbagai negara, menandakan bahwa tekanan sosial terhadap peran anak perempuan—antara menjaga keharmonisan dan mendorong perubahan—merupakan pola global.
Sayangnya, secara budaya, masyarakat masih cenderung lebih menghargai anak perempuan yang penurut, lembut, dan menjaga perasaan. Sementara itu, mereka yang tegas, kritis, dan berani sering kali kurang mendapat apresiasi, meskipun perannya penting dalam memperkuat hubungan keluarga.
Studi ini menegaskan bahwa tidak ada satu cara baku untuk menjadi “anak perempuan yang baik”. Sebagian menjaga hubungan dengan kelembutan dan empati, sementara yang lain melakukannya dengan kejujuran, batasan yang tegas, dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Pada akhirnya, anak perempuan yang blak-blakan bukanlah perusak keharmonisan keluarga. Sebaliknya, mereka berperan sebagai pendorong perubahan yang membantu keluarga menjadi lebih sehat, terbuka, dan berkelanjutan dalam jangka panjang. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
