Sebanyak delapan dari 68 rumah sakit (RS) di Kota Surabaya kini telah tersertifikasi memiliki standar layanan internasional atau Medical Tourism guna menarik pasien domestik maupun mancanegara.
Hal itu disampaikan dr. Atiek Tri Arini, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya dalam program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (24/4/2026) pagi. Dari delapan rumah sakit itu, tiga di antaranya rumah sakit pemerintah.
“Rumah sakit di Kota Surabaya totalnya ada 68 rumah sakit. Yang sudah tersertifikasi untuk Medical Tourism ini ada delapan rumah sakit. Tiga di antaranya rumah sakit pemerintah, lima di antaranya adalah rumah sakit swasta begitu. Yang milik pemerintah itu Rumah Sakit dr. Soewandi, Rumah Sakit dr. Soetomo, dan Rumah Sakit Unair,” jelas dr. Atiek.
Dia mengatakan, Dinkes Surabaya berkomitmen memastikan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) memenuhi standar kualitas yang tinggi untuk meningkatkan angka harapan hidup warga yang kini berada di angka 74 tahun.
“Angka harapan hidup Kota Surabaya ini kan sudah sangat tinggi ya, sudah di angka 74 (tahun) gitu. Otomatis layanan kesehatan yang di Kota Surabaya ini harus benar-benar kita pastikan memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Surabaya, terstandarisasi, dan berkualitas tentunya,” tambahnya.
Selain itu, Kadinkes juga memastikan Pemerintah Kota terus memperkuat posisi Surabaya sebagai pusat layanan kesehatan di wilayah Indonesia Timur.
Terkait peran Dinkes, dr. Atiek mengatakan sebagai pembina sekaligus pengawas, pihaknya terus melakukan inovasi untuk memastikan seluruh fasilitas kesehatan terstandarisasi dan Sebagai pembina, Dinkes mendorong rumah sakit untuk terus melakukan inovasi tanpa mengabaikan regulasi dari Kementerian Kesehatan.
Pada kesempatan yang sama, dr. Arif Setiawan Wakil Direktur RSUD dr. Mohamad Soewandhie menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama Medical Tourism di Kota Surabaya adalah kelengkapan alat medis yang canggih, seperti layanan radioterapi untuk kanker.
“RSUD Soewandhie itu kan kita jual misalnya kemarin itu radioterapi ya untuk kanker. Jadi (pengobatan) kanker itu sudah banyak peminatnya tidak hanya dari Pulau Jawa, bisa dari luar Jawa bisa dari luar negeri juga. Jadi Radioterapi yang dipunyai oleh Soewandhie ini salah satu yang sekarang ini yang dipakai yang terbaik. Tidak banyak rumah sakit punya ya, termasuk di Jawa Timur bahkan Indonesia hanya beberapa rumah sakit saja yang punya,” papar dr. Arif.

Dokter Arief menjelaskan, Radioterapi berbeda dengan Kemoterapi. Radioterapi memakai metode sinar yang langsung tertuju ke titik kanker, beda dengan kemo yang lewat pembulu darah.
“Kalau ini langsung disinar yang kankernya misalnya diparunya parunya itu yang disinar. (Tingkat keberhasilan) tiap kanker memang ada ada ciri-ciri nilainya ya, tapi memang jauh lebih tinggi daripada kemo dan lain-lain ya. Jadi itu yang masuk dalam paket untuk Medical Tourism,” ungkapnya.
Pria yang juga menjabat Plt. Direktur RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) itu mengungkapkan, konsep Medical Tourism yang diluncurkan sejak 21 April 2026 ini bukan sekadar pengobatan, melainkan paket lengkap (one stop service) yang mencakup akomodasi hingga rekreasi bagi pendamping pasien.
“Medical Tourism itu tidak hanya masalah sarpras, jadi itu masalah pariwisatanya juga digarap di situ. Jadi kalau Suwandi itu dengan agensi itu dipaketkan termasuk pariwisatanya. Termasuk hotelnya di mana, penjemputan, dan lain-lain. Yang mengantarkan juga tidak stres nungguin orang sakit, nanti bisa dapat semuanya,” pungkas dr. Arif.
Sementara itu, dr. Listyorini Rara Ningtias Direktur RSUD Eka Candrarini pada kesempatan yang sama turut menekankan bahwa standar global tidak hanya soal alat, tetapi juga soal “memanusiakan” pasien melalui budaya melayani yang kuat.
“Kalau orang ke rumah sakit itu kan sakit, kadang yang sakit tidak hanya fisiknya tapi kan secara mental juga sudah sakit. Pasti inginnya pelayanan yang sat-set yang cepat dan kita harus bisa memanusiakan. Setiap orang yang datang ke pintu kita itu harus kita perlakukan layaknya kita pengin diperlakukan seperti apa,” tegas dr. Tias sapaan akrabnya.
Terkait pengembangan rumah sakit, dr. Tias memaparkan bahwa ke depan, standarisasi rumah sakit tidak lagi hanya terpaku pada pembagian Tipe A, B, atau C, melainkan pada kompetensi tiap layanan. Adapun saat ini, RSUD Eka Candrarini sedang memperkuat layanan unggulannya di bidang ibu dan anak.
“Arahnya ya mungkin ke tahun-tahun ke depan ini yang diterapkan bukan lagi tipe ABC ya, tapi kompetensi tiap pelayanan. Jadi ada kompetensi dasar, madya, utama, dan paripurna. Kami juga nantinya yang pasti sih kita pasti kan harus memenuhi dasar dulu ya. Kemudian nanti kita akan mengembangkan beberapa layanan mungkin akan naik ke Madya dan mungkin utama,” kata dr. Tias. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
