Memasuki hari kedua di Madinah Al Munawwarah, suasana kota suci semakin dipadati jemaah calon haji dari berbagai penjuru dunia. Di Masjid Nabawi, jemaah asal Indonesia tampak mendominasi sejumlah saf salat, menunjukkan antusiasme tinggi dalam menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, aspek kesehatan menjadi perhatian utama. Salah satu faktor penting adalah asupan makanan yang dikonsumsi jamaah selama berada di Madinah.
Junaedi Husda Koordinator Tugas dan Fungsi Konsumsi Sektor 3 Madinah menegaskan bahwa pemerintah Indonesia telah menyiapkan layanan konsumsi dengan standar khusus bagi jemaah haji. Ia menyebut, layanan tersebut mengusung prinsip utama.
“Kami mengedepankan motto tepat waktu, tepat jumlah, dan rasa Nusantara. Supaya jemaah selama menunaikan ibadah haji tidak lagi berpikir bagaimana makanan harus seperti kampung di mana tempat tinggal mereka,” ujar Junaedi.
Ia menjelaskan, penyediaan makanan bagi jemaah haji Indonesia tidak dilakukan secara sembarangan. Selain menggunakan rempah-rempah yang didatangkan langsung dari Indonesia, proses memasak juga melibatkan koki profesional yang ahli dalam masakan nusantara.
Para koki tersebut bekerja di 16 dapur katering mitra di Arab Saudi yang dikelola oleh dua perusahaan penyedia layanan, yakni Albait Guests dan Rakeen Mashariq. Setiap dapur bertanggung jawab melayani kelompok terbang (kloter) tertentu selama jamaah berada di Madinah.
Untuk menjaga kualitas, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bidang konsumsi rutin melakukan pengawasan ketat.
Pengujian dilakukan mulai dari proses gramasi, guna memastikan porsi nasi, lauk, dan sayur sesuai kebutuhan gizi jamaah, hingga uji cita rasa agar tetap sesuai dengan selera Indonesia.
“Kuncinya adalah, yang pertama berasnya Indonesia banget. Kemudian rempahnya dari Indonesia juga,” ujar Junaedi.
Sebelum didistribusikan ke jemaah, makanan terlebih dahulu dihangatkan menggunakan oven berkapasitas besar di masing-masing hotel tempat jemaah menginap. Proses ini dilakukan untuk memastikan makanan tetap layak konsumsi saat diterima jemaah.
Junaedi berharap, dengan kualitas makanan yang terjaga dan cita rasa khas Nusantara, jemaah dapat menjaga kondisi fisik selama menjalankan rangkaian ibadah haji. (saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
