Tren lomba burung kicau yang kian marak di berbagai daerah, mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap kelestarian populasi burung di alam liar. Para ahli dan pelaku usaha pun mengingatkan pentingnya penangkaran alami sebagai solusi berkelanjutan.
Menurut drh. Liang Kaspe mantan Direktur Operasional Kebun Binatang Surabaya (KBS), aktivitas lomba burung tetap dapat berjalan selama tidak merusak ekosistem. Dia menolak keras praktik pengambilan burung langsung dari hutan.
“Saya setuju lomba burung berkicau. Tetapi yang dilombakan harus berasal dari hasil penangkaran, bukan burung tangkapan dari alam liar. Karena sekarang populasi burung berkicau di alam liar itu makin lama makin menurun,” ujar Liang dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (6/5/2026).
Dia juga mengingatkan bahwa burung merupakan satwa yang rentan terhadap perubahan lingkungan. Burung liar yang terbiasa terbang bebas berisiko mengalami stres ketika dikurung.
“Kalau diambil dari hutan, lalu dimasukkan ke sangkar, burung bisa stres dan akhirnya mati. Selain itu, burung juga lebih rentan sakit dibandingkan hewan menyusui,” katanya.
Senada dengan itu, Gunawan peternak cucakrawa asal Surabaya mengungkapkan, proses penangkaran burung kicau tidaklah mudah, terutama untuk jenis tertentu yang memiliki karakter biologis unik.
“Saya spesialis cucakrawa, salah satu burung yang paling sulit diternakkan. Kesulitannya karena burung ini monomorfik, jadi jantan dan betinanya hampir tidak bisa dibedakan secara visual,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk memastikan jenis kelamin cucakrawa, Gunawan bahkan memerlukan teknologi khusus seperti uji DNA.
Gunawan juga menyoroti praktik penetasan menggunakan mesin yang dinilai dapat memengaruhi karakter burung. “Oleh karena itu saya mengikuti saran Bu Liang Kaspe untuk beternak secara alami, tanpa banyak intervensi manusia,” kata Gunawan.
Gunawan menambahkan bahwa ia memilih membiarkan induk burung mengerami telur dan memberi makan anaknya secara langsung.
“Saya tidak meloloh anak burung. Biarkan induknya yang merawat agar karakter alaminya tetap terjaga,” tegasnya.
Gunawan saat ini mengelola penangkaran dengan beberapa pasangan burung, termasuk murai dan cucakrawa, yang sebagian dikembangkan di Pandaan, Pasuruan.
Ia juga mengajak para penghobi dan penangkar untuk tidak lagi menangkap burung dari alam liar. “Jangan menangkap burung di hutan. Mari kita lestarikan secara alami,” ajaknya.
Di sisi lain, pemerintah melihat sektor burung kicau sebagai peluang ekonomi yang signifikan. Budi Santoso Menteri Perdagangan menyebut nilai perputaran ekonomi dari ekosistem ini mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun.
Budi menilai tren lomba burung kicau yang semakin marak di berbagai daerah menjadi pendorong utama pertumbuhan nilai ekonomi tersebut. Menurutnya, aktivitas lomba burung tidak hanya sebatas hobi masyarakat, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem usaha yang luas dan saling terhubung.
Rantai ekonomi ini mencakup peternak burung, pelaku penangkaran atau breeding, hingga industri pendukung seperti produsen pakan, pembuat sangkar, serta pemasok pakan alami seperti jangkrik.
Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa pengembangan sektor burung kicau juga sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan. Ia memastikan bahwa burung yang dilombakan merupakan hasil ternak, bukan tangkapan dari alam liar, sehingga tidak mengganggu populasi di habitat aslinya. (saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

