Rabu, 6 Mei 2026

Lomba Burung Kicau Dorong Ekonomi UMKM dan Peternak di Indonesia

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi burung murai batu. Foto: iStock

Industri burung kicau di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan dan kini dipandang sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif berbasis hobi yang bernilai besar. Budi Santoso Menteri Perdagangan menyebut perputaran ekonomi dari aktivitas ini berada pada kisaran Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun.

Menurut Budi Santoso, meningkatnya popularitas lomba burung kicau di berbagai daerah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi tersebut. Ia menegaskan bahwa aktivitas ini telah berkembang jauh melampaui sekadar hobi masyarakat.

Ekosistem tersebut melibatkan berbagai pelaku usaha, mulai dari peternak burung, penangkar (breeding), hingga sektor pendukung seperti produsen pakan, pembuat sangkar, serta pemasok pakan alami seperti jangkrik dan kroto. Rantai ekonomi ini disebut turut menggerakkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di banyak daerah.

Selain dampak ekonomi, Budi Santoso juga menekankan aspek pelestarian lingkungan. Ia memastikan bahwa burung yang digunakan dalam lomba merupakan hasil penangkaran, bukan hasil tangkapan liar.

BACA JUGA: Mendag Sebut Nilai Ekosistem Burung Kicau Tembus Rp2 Triliun

Meski angka triliunan rupiah tersebut mendapat perhatian publik, pelaku komunitas burung kicau mempertanyakan dasar perhitungannya. Fathir Humas komunitas Seduluran Murai Mania (SMM) Jawa Timur mengaku terkejut dengan besaran nilai yang disebut pemerintah.

“Saya sendiri juga kaget kwaktu dengar ada angka Rp2 Triliun. Saya tidak tahu angka itu perhitungannya dari mana. Tapi yang pasti insyaallah dari lomba-lomba seperti ini ikut membantu menggerakkan roda ekonomi dari menengah ke bawah,” kata Fathir dalam Program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa aktivitas lomba burung memang menciptakan perputaran uang di berbagai sektor, seperti perajin sangkar, peternak jangkrik, pencari kroto, hingga peternak ulat Hong Kong. Selain itu, UMKM di sekitar lokasi lomba juga ikut mendapatkan dampak ekonomi positif.

Namun demikian, Fathir menilai angka Rp2 triliun masih sulit dibuktikan jika hanya dihitung dari kegiatan lomba semata.

“Kalau dari lomba saja, terus terang tidak mungkin sampai angka itu. Bahkan di komunitas murai, Rp1 miliar per event besar saja sudah sangat tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam satu event lomba, tiket peserta berkisar dari Rp550 ribu hingga Rp1,2 juta untuk skala kecil, dan dapat mencapai Rp4,5 juta hingga Rp5 juta untuk event besar berskala lebih besar. Namun demikian, menurutnya jika dihitung secara total, satu event besar saja diperkirakan berada di kisaran maksimal sekitar Rp1 miliar.

Fathir menjelaskan bahwa dalam aktivitas sehari-hari, pehobi burung biasanya mencari burung unggulan atau “gaco” dari penangkar yang memiliki reputasi baik. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualitas burung yang akan dilombakan, baik dari segi suara, irama, maupun volume.

Ia juga menyoroti peran industri sangkar burung yang terus bergerak karena kebutuhan rutin penggantian. Harga sangkar bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga beberapa juta rupiah, tergantung kualitas dan bahan.

Menurutnya, hampir seluruh burung yang digunakan untuk lomba saat ini berasal dari penangkaran.

“Iya, dari penangkaran. Kalau dari hutan kami cenderung menghindari karena tak tahu kualitas dan asal-usulnya,” ujar Fathir.

Ia menambahkan, burung hasil penangkaran lebih mudah diprediksi kualitasnya karena sudah diketahui garis keturunannya.

Dalam komunitas, burung yang sering menjuarai lomba dapat memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Fathir menyebut ada kasus burung murai yang dihargai hingga Rp1 miliar karena prestasi dan kualitasnya.

Namun ia menilai persepsi nilai tersebut sangat bergantung pada sudut pandang. “Kalau orang di luar hobi, Rp5 juta sampai Rp10 juta sudah mahal. Tapi kalau mereka penhobi Rp1 miliar rasanya murah, mungkin ya,” katanya.

Selain aspek ekonomi, komunitas burung kicau juga membentuk hubungan sosial yang kuat antaranggota. Para penghobi berasal dari berbagai latar belakang, namun tetap terhubung dalam satu aktivitas yang sama. “Karena kan di sini ini kita semua ini guyup rukun, tidak ada melihat latar belakang, suku, ras. Kami di sini menjadi saudara,” ujarnya.(saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 6 Mei 2026
32o
Kurs