Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat dan sekutunya terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Teheran menegaskan setiap serangan terhadap kapal dagang maupun tanker minyak Iran akan dibalas dengan operasi militer besar-besaran.
Peringatan itu disampaikan komando Angkatan Laut IRGC di tengah situasi keamanan yang terus memanas di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang kini menjadi pusat ketegangan geopolitik internasional.
“Peringatan! Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap salah satu pusat Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan Angkatan Laut IRGC seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Ancaman tersebut muncul setelah Amerika Serikat memperketat operasi maritim di kawasan Teluk serta melanjutkan blokade terhadap lalu lintas kapal Iran di Selat Hormuz.
Majid Mousavi Komandan Angkatan Udara IRGC menegaskan bahwa militer Iran saat ini berada dalam kondisi siaga penuh. Ia menyebut rudal dan drone tempur Iran telah dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
“Rudal dan drone telah dikunci pada musuh dan hanya menunggu perintah untuk diluncurkan,” ujar Mousavi dilansir dari Antara pada Minggu (10/5/2026).
Sementara itu, Inggris mulai meningkatkan kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah. Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi pengerahan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi konflik maritim di Selat Hormuz.
Kapal perusak HMS Dragon yang sebelumnya bertugas di kawasan Mediterania timur dilaporkan telah dipersiapkan untuk mendukung misi keamanan pelayaran internasional bersama Inggris dan Prancis.
Sejumlah media Inggris menyebut kapal perang tipe 45 tersebut akan bersiaga di wilayah Timur Tengah guna mendukung operasi perlindungan jalur perdagangan internasional jika kondisi keamanan memburuk.
Ketegangan kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel serta sejumlah sekutu Washington di kawasan Teluk.
Situasi itu kemudian berdampak langsung pada aktivitas pelayaran global setelah Selat Hormuz sempat ditutup akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Upaya meredakan konflik sebenarnya sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata diberlakukan pada 8 April, namun perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.
Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) kemudian memperpanjang status gencatan senjata tanpa batas waktu tertentu sambil membuka peluang diplomasi untuk menyelesaikan konflik secara permanen.
Meski demikian, Washington tetap melanjutkan kebijakan tekanan maritim terhadap Iran. Sejak 13 April, militer AS melakukan blokade angkatan laut dengan menargetkan aktivitas pelayaran Iran di Selat Hormuz.
Trump bahkan menegaskan operasi “Project Freedom” yang sebelumnya bertujuan memulihkan kebebasan navigasi di kawasan untuk sementara dihentikan. Namun, blokade maritim terhadap Iran disebut tetap berjalan penuh. (ant/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

