Penyakit lupus dan fenomena silent disability atau disabilitas tersembunyi menjadi perhatian dalam peringatan Hari Lupus Sedunia yang jatuh setiap 10 Mei.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga mulai memengaruhi kehidupan sosial dan dunia kerja.
Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES) dikenal sebagai salah satu penyakit autoimun yang sulit dideteksi pada tahap awal karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain.
Penyakit ini dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh dan sering disebut sebagai “penyakit seribu wajah”.
Ari Baskoro dosen Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menjelaskan, lupus merupakan penyakit autoimun yang hingga kini belum dapat disembuhkan secara total.
“Lupus memiliki karakter yang sangat kompleks karena mampu menyerupai banyak penyakit lain, sehingga sering kali terlambat terdiagnosis,” kata Ari Baskoro dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Minggu (10/5/2026).
Ia menambahkan, paparan sinar ultraviolet yang tinggi, termasuk akibat perubahan iklim dan fenomena El Nino, dapat memicu kekambuhan pada penderita lupus.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan suhu ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.
Selain faktor lingkungan, Ari juga menyoroti dampak sosial yang dialami penyandang penyakit autoimun, terutama dalam dunia kerja. Banyak pasien lupus, kata dia, tampak sehat secara fisik namun sebenarnya mengalami keterbatasan aktivitas akibat nyeri, kelelahan, hingga kekambuhan penyakit.
“Banyak penderita yang secara fisik tampak sehat, tetapi sebenarnya mengalami keterbatasan fungsi yang signifikan. Kondisi ini sering tidak dipahami di lingkungan kerja,” ujarnya.
Fenomena tersebut dikenal sebagai silent disability. Ini adalah kondisi disabilitas yang tidak tampak secara kasat mata namun memengaruhi kemampuan seseorang dalam beraktivitas.
Menurut Ari, penyandang silent disability kerap menghadapi stigma di tempat kerja karena kondisi mereka tidak terlihat secara fisik. Hal ini dapat menimbulkan salah persepsi, mulai dari dianggap tidak produktif hingga tidak disiplin.
Ia menjelaskan, dalam konteks medis, penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, hingga tiroiditis Hashimoto menjadi penyebab utama silent disability yang kini semakin banyak ditemukan.
Ari menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat dan dunia kerja terhadap kondisi tersebut agar tidak terjadi diskriminasi terhadap penyandang penyakit kronis.
“Perlu ada pemahaman bahwa tidak semua disabilitas terlihat secara fisik. Banyak kondisi medis yang bersifat fluktuatif tetapi tetap berdampak pada kemampuan kerja seseorang,” katanya.
Ia juga menyinggung bahwa sejumlah regulasi telah mengakomodasi perlindungan bagi penyandang disabilitas, termasuk kondisi disabilitas tersembunyi, meski implementasinya di lapangan masih perlu diperkuat melalui sosialisasi. (saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

