Sabtu, 18 Juli 2026

Hasto: Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme Hidupkan Kembali Semangat Politik Pembebasan Rakyat

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Hasto Kristiyanto Sekjen DPP PDIP saat memberikan keterangan pers seusai upacara hari lahir Pancasila di halaman Masjid At Taufiq, Sekolah Partai Lenteng Agung Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Hasto Kristiyanto Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan menjelaskan alasan di balik kembali diperdengarkannya lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme dalam berbagai agenda internal partai.

Menurutnya, lagu tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman ideologi sekaligus meluruskan sejarah mengenai konsep Marhaenisme yang selama ini kerap disalahartikan.

Pernyataan itu disampaikan Hasto usai mengikuti Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila di Masjid At Taufiq, Sekolah Partai, Lenteng Agung Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Hasto mengungkapkan, lagu tersebut kembali diperkenalkan kepada kader partai melalui aransemen baru yang digagas oleh M. Prananda Prabowo.

Langkah itu dilakukan untuk mengembalikan pemahaman masyarakat mengenai makna Marhaenisme sebagai ajaran yang berpihak kepada rakyat kecil.

“Maka lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme itu sangat penting dan diperkenalkan kembali oleh Mas Prananda Prabowo dengan aransemen yang baru. Itu membangkitkan kesadaran kita tentang watak sejati Pancasila untuk merubah struktur yang menindas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan dan kerakyatan itu sendiri,” kata Hasto.

Dia menegaskan bahwa Marhaenisme tidak dapat disamakan dengan komunisme sebagaimana stigma yang pernah berkembang pada masa lalu.

Menurutnya, konsep tersebut lahir dari realitas sosial yang ditemukan langsung oleh Soekarno dan menjadi dasar perjuangan untuk membangun kemandirian rakyat.

Hasto menjelaskan, Marhaen merupakan simbol rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi belum memperoleh akses dan kesempatan yang adil dalam kehidupan ekonomi maupun politik. Karena itu, kesadaran dan pemberdayaan rakyat menjadi bagian penting dari perjuangan politik yang diwariskan Bung Karno.

Saat ditanya mengenai peluang lagu tersebut diputar dalam acara-acara kenegaraan, Hasto menilai yang terpenting bukanlah aspek seremonial, melainkan bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diwujudkan dalam kebijakan nyata.

“Bagi PDI Perjuangan lagu mars Bung Karno Bapak Marhaenisme yang penting adalah spiritnya itu, spirit tentang kemerdekaan kita, tentang politik kita itu untuk rakyat Marhaen. Itu penuh dengan upaya-upaya nyata bagaimana kebijakan-kebijakan ideologis sampai teknokratis itu memberi kemanfaatan bagi rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan pemikiran para pendiri bangsa masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, mulai dari kualitas pendidikan hingga persoalan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, semangat yang terkandung dalam lagu tersebut dapat menjadi pengingat bahwa politik harus hadir sebagai alat untuk membebaskan rakyat dari berbagai persoalan sosial.

“Kita sudah tertinggal dengan Singapura, bahkan dengan Malaysia, pendidikan kita menurun kualitasnya. Maka dengan spirit lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, kita memperkuat watak sejati politik yang membebaskan dari berbagai belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan,” pungkas Hasto.(faz/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 18 Juli 2026
29o
Kurs