Sabtu, 6 Juni 2026

Purbaya Pastikan BI Tidak Akan Merendahkan Suku Bunga Karena Resesi

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (5/6/2026). Foto Lea Citra suarasurabaya.net

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) memastikan Bank Indonesia ke depan tidak akan menurunkan suku bunganya karena persoalan resesi.

Ia memastikan hal ini karena kondisi keuangan, fiskal dan tata kelolanya masih bagus. Purbaya mengatakan, fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah ketidakpastian perekonomian global.

“Jadi inverted (terbalik), tidak selalu menggambarkan persepsi kalau kurvanya dimainkan bukan market base. Jadi itu yang mesti dimengerti oleh para investor juga. Semuanya bagus kok. Enggak ada masalah. Bank sentral enggak akan merendahkan suku bunga ke depan gara-gara kita resesi,” ungkap Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Bendahara Negara memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat baik dan ke depan bakal ada akselerasi. Di mana pendapatan negara melalui pajak meningkat 22,1 persen atau sebesar Rp834,4 triliun (year on year). Ke depan pendapatan dari pajak diklaim akan semakin membaik.

“Saya hanya bisa dibilang fondasi ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali, gara-gara kita memasuki masa resesi. Kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” pungkasnya.

Katanya, kinerja penerimaan perpajakan terus menunjukkan tren positif seiring dengan menguatnya aktivitas ekonomi nasional dan semakin baiknya implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax.

Untuk diketahui, hingga akhir Mei 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 22,1 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan hingga April 2026 yang sebesar 16,1 persen.

“Penerimaan pajak melanjutkan tren pertumbuhan positif sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan semakin baiknya implementasi Coretax,” ujar Menkeu.

Adapun pertumbuhan penerimaan perpajakan yang kuat disebutnya menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi riil terus bergerak dan memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara.

Menkeu menjelaskan salah satu penopang utama pertumbuhan penerimaan perpajakan berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Deposit PPh Badan yang menunjukkan perbaikan signifikan.

Hingga Mei 2026, penerimaan PPh tersebut mencapai Rp167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen, meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang hanya Rp135,2 triliun. Peningkatan itu mencerminkan kondisi dunia usaha yang tetap sehat dan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan.

“Ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan masih tumbuh dan memiliki kinerja yang baik. Kekhawatiran sebelumnya bahwa dunia usaha mengalami perlambatan ternyata tidak terbukti,” katanya.

Selain itu, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada Mei 2026 juga mencatat pertumbuhan yang sangat kuat, yakni tumbuh 41,3 persen (Rp315,7 T) secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 sebesar 40,2 persen (Rp221,2 T).

Menkeu menegaskan bahwa kinerja PPN dan PPnBM yang meningkat mencerminkan konsumsi domestik yang tetap kuat serta daya beli masyarakat yang terjaga. “PPN dan PPnBM sebagai pajak konsumsi meningkat tinggi sejalan dengan konsumsi dalam negeri yang kuat dan daya beli yang terjaga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menkeu menilai berbagai indikator penerimaan negara menunjukkan perbaikan ekonomi yang terjadi tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga berlangsung di sektor riil. Ini terlihat dari pertumbuhan penerimaan perpajakan pada sejumlah sektor utama perekonomian.

Sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan penerimaan perpajakan mencapai 52,4 persen, diikuti sektor pertambangan sebesar 28,2 persen, industri pengolahan 19,7 persen, pengangkutan dan pergudangan 16,8 persen, jasa perusahaan 16,3 persen, serta konstruksi dan real estat yang tumbuh 7,4 persen.

Menurut Menkeu, pertumbuhan yang kuat pada sektor perdagangan menunjukkan tingginya aktivitas transaksi dan konsumsi masyarakat. Sementara itu, kenaikan penerimaan dari sektor industri pengolahan mengindikasikan bahwa aktivitas produksi manufaktur terus berjalan dan meningkat.

“Kinerja sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak. Ketika perdagangan tumbuh tinggi berarti ada transaksi dan konsumsi yang meningkat, sedangkan industri pengolahan yang tumbuh menunjukkan pabrik-pabrik tetap berproduksi,” jelasnya.(lea/bil/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Sabtu, 6 Juni 2026
32o
Kurs