Durasi tidur malam ternyata memiliki kaitan erat dengan proses penuaan biologis seseorang. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal “Nature” mengungkapkan, tidur sekitar enam hingga delapan jam per malam berhubungan dengan kondisi biologis yang lebih sehat dibandingkan durasi tidur yang terlalu singkat atau terlalu panjang.
Para peneliti mengidentifikasi bahwa rentang tidur optimal berada pada kisaran 6,4 hingga 7,8 jam per malam. Di luar rentang tersebut, baik kurang dari enam jam maupun lebih dari delapan jam, dikaitkan dengan tanda-tanda percepatan penuaan biologis.
Penelitian ini menggunakan data berskala besar, termasuk dari UK Biobank, yang mencakup informasi kesehatan, biomarker biologis, serta gaya hidup ratusan ribu partisipan.
Analisis dilakukan dengan menggabungkan data kebiasaan tidur yang dilaporkan sendiri, hasil pencitraan otak, biomarker darah, catatan medis, hingga luaran kesehatan jangka panjang.
Dilansir dari Antara pada Sabtu (6/6/2026), para peneliti kemudian membandingkan durasi tidur dengan 23 indikator penuaan biologis pada berbagai organ dan sistem tubuh.
Alih-alih hanya mengacu pada usia kronologis, studi ini menggunakan konsep “jam biologis” untuk memperkirakan usia sebenarnya dari organ berdasarkan indikator fisiologis seperti hasil pemindaian dan biomarker darah.
Hasilnya menunjukkan adanya pola konsisten: durasi tidur yang terlalu pendek maupun terlalu panjang berkaitan dengan percepatan penuaan pada berbagai sistem tubuh, termasuk otak, jantung, serta sistem kekebalan tubuh.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa tidur tidak hanya berdampak pada satu organ, tetapi berperan dalam proses penuaan tubuh secara menyeluruh.
Penelitian juga menemukan bahwa durasi tidur yang tidak ideal berhubungan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, depresi, hingga risiko kematian yang lebih tinggi.
Menurut peneliti, kurang tidur cenderung berkaitan langsung dengan peningkatan stres, peradangan, serta gangguan sistem imun.
Sementara itu, tidur terlalu lama diduga bukan penyebab langsung, melainkan dapat menjadi indikator adanya kondisi kesehatan tertentu atau proses penuaan yang sudah berlangsung.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum membuktikan bahwa durasi tidur secara langsung menyebabkan percepatan penuaan.
Selain itu, data durasi tidur yang digunakan masih berbasis laporan mandiri peserta, sehingga memiliki potensi bias dibandingkan pengukuran objektif melalui alat pemantau tidur.
Kendati demikian, para peneliti menilai hasil studi ini memperkuat pentingnya menjaga pola tidur yang cukup dan konsisten sebagai bagian dari upaya mempertahankan kesehatan jangka panjang serta memperlambat proses penuaan biologis. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

