Selasa, 9 Juni 2026

Rupiah Menguat ke Rp18.058 per Dolar AS Setelah BI Naikkan Suku Bunga

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi. Petugas bank menghitung rupiah. Foto: Shutterstock

Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Berdasarkan data pasar, kurs rupiah pada penutupan perdagangan menguat 130 poin atau 0,71 persen ke level Rp18.058 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.188 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi pengamat pasar uang menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari respons positif pelaku pasar terhadap langkah Bank Indonesia yang memperketat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” ujar Ibrahim.

Keputusan menaikkan BI-Rate diumumkan Bank Indonesia pada hari yang sama sebagai bagian dari upaya meredam tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak lebih lemah dari perkiraan.

Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia menjelaskan, kenaikan suku bunga juga diarahkan untuk meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik sehingga dapat mendorong masuknya kembali investasi portofolio asing ke Indonesia.

Menurut Perry, hasil evaluasi sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19–20 Mei 2026 menunjukkan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Selain dipengaruhi ketidakpastian global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri serta meningkatnya arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.

“Nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan. Selain gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing domestik, pelemahan rupiah juga didorong oleh aliran keluar investasi portofolio asing,” kata Perry dilansir dari Antara.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah lanjutan guna memperkuat stabilitas nilai tukar.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga meningkatkan imbal hasil sejumlah instrumen keuangan serta memberikan berbagai insentif untuk menarik kembali aliran dana asing ke pasar domestik.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi rupiah sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dari sisi eksternal, sentimen global masih dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel.

Meski kedua pihak dilaporkan menghentikan serangan langsung dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan kawasan dinilai masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

Laporan media Israel menyebutkan Tel Aviv dan Washington telah menyampaikan pesan kepada Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan jika Iran juga menahan diri untuk tidak melanjutkan aksi militernya.

Namun, Iran sebelumnya menyatakan akan kembali melakukan serangan apabila Israel melanjutkan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Penguatan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.

Pada perdagangan Selasa, JISDOR tercatat berada di level Rp18.141 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.171 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Selasa, 9 Juni 2026
28o
Kurs