Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran mengatakan, perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Swiss yang difasilitasi Pakistan dan Qatar menghasilkan kemajuan signifikan untuk mengakhiri perang di Lebanon dan mengurangi tekanan terhadap ekonomi Iran.
Meski demikian, sempat terjadi aksi walk out yang dilakukan Tim Negosiasi Iran, karena Donald Trump Presiden AS tiba-tiba mengeluarkan cuitan di platform Truth Social-nya dengan mengancam akan mengebom Iran di tengah perundingan.
“Mediasi tanpa lelah Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon. Ekspor minyak dan petrokimia dibebaskan, blokade dicabut, sebagian aset yang dibekukan dilepas, dan rencana besar rekonstruksi serta pembangunan untuk Iran diluncurkan,” kata Araghchi di platform X, Senin (22/6/2026).
Melansir Anadolu, pernyataan itu disampaikan setelah Qatar dan Pakistan mengumumkan adanya kemajuan penting dalam upaya diplomatik antara AS dan Iran, seusai putaran pertama pembicaraan tingkat tinggi di Lake Lucerne Summit, Burgenstock, Swiss.
Dalam pernyataan bersama, para pihak sepakat membentuk de-confliction cell antara pihak-pihak terkait, Republik Lebanon, serta difasilitasi mediator. Mekanisme ini dibentuk untuk memastikan penghentian operasi militer di Lebanon berjalan sesuai memorandum kesepahaman.
“Ujian nyata pertama: Lebanon deconfliction cell,” kata Araghchi.
Dalam pernyataan terpisah, Araghchi menyebut perkembangan diplomatik tersebut sebagai bagian dari perjuangan nasional Iran yang lebih besar.
“Dari lapangan sepak bola ke meja perundingan hingga medan perang, setiap langkah yang kami ambil sebagai bangsa Iran adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar: membela kehormatan dan martabat rakyat kami tercinta,” ujarnya.
Sementara terkait proses walk out yang sempat mewarnai ketegangan perundingan, Tim negosiasi Iran menyatakan hal itu merupakan bentuk protes terhadap pernyataan Trump yang dinilai sebagai ancaman.
Menurut Kantor Berita Tasnim, delegasi Iran menilai ancaman Trump terhadap Iran dan tim perundingnya merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Pasal 1 memorandum kesepahaman antara Teheran dan Washington.
Delegasi Iran menyebut Pasal 1 memorandum itu mewajibkan AS menahan diri dari pernyataan bernada ancaman. Tasnim juga melaporkan delegasi Iran sempat meninggalkan lokasi perundingan setelah ancaman Trump tersebut.
Sebelumnya pada Minggu, Trump meminta Iran segera menghentikan kelompok proksinya di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Ia memperingatkan Washington bisa kembali menyerang Teheran dengan lebih keras.
“Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menghantam Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, hanya saja lebih keras,” tulis Trump di Truth Social.
Dalam laporan Fox News, Trump juga disebut memperingatkan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz. Trump mengatakan AS dapat mengambil alih selat tersebut jika diperlukan, bahkan menyebut kemungkinan AS menjadi “Guardian Angel” Selat Hormuz dan mengambil 20 persen dari minyak yang melintas.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut tarif lintas,” kata Trump.
Trump juga menyinggung Masoud Pezeshkian Presiden Iran yang bersikeras mempertahankan hak Iran untuk memperkaya uranium. Menurut Trump, Pezeshkian harus berhati-hati dalam berbicara.
Putaran pertama pembicaraan empat pihak yang melibatkan Iran dan AS, dengan mediasi Qatar dan Pakistan, selesai di Swiss pada, Minggu (21/6/2026) waktu setempat, seperti dilaporkan Kantor Berita Fars dengan mengutip sumber yang mengetahui tim negosiasi Iran.
Meski demikian, belum ada rincian lebih lanjut mengenai kapan sesi berikutnya akan dimulai.
Sebelumnya, Qatar mengumumkan dimulainya negosiasi AS-Iran di Swiss dengan keterlibatan mediator Qatar dan Pakistan. Pembicaraan itu membahas implementasi kesepakatan sementara antara kedua pihak.
Delegasi AS dan Iran telah tiba lebih awal di Swiss untuk mengikuti negosiasi teknis berdasarkan memorandum kesepahaman yang ditandatangani pada, Rabu (17/6/2026) pekan lalu. Kesepakatan itu bertujuan mengakhiri konflik berbulan-bulan di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz.
Perundingan di Burgenstock dipimpin J.D. Vance Wakil Presiden AS. Dari pihak Iran, pembicaraan diikuti Mohammad Bagher Qalibaf Ketua Parlemen Iran dan Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran, dengan mediasi Pakistan.
Di sisi lain, Axios melaporkan dengan mengutip seorang diplomat yang tidak disebutkan namanya, bahwa delegasi Iran belum benar-benar meninggalkan perundingan di Swiss dan pembicaraan dengan AS masih berlangsung.
Laporan itu juga menyebut pihak AS ingin putaran pertama perundingan diakhiri dengan undangan dari Iran kepada inspektur PBB untuk mengunjungi situs nuklirnya, yang sebelumnya dibom oleh AS dan Israel. (bil/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

