Rabu, 24 Juni 2026

Pemerintah Perluas Akses Pasar dan Investasi di Tengah Ketidakpastian Global

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Foto Humas Kemenko Perekonomian

Pemerintah mempercepat perluasan akses pasar ekspor dan investasi melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan Indonesia terus membuka peluang pasar baru, sekaligus memperkuat daya tarik investasi agar tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Airlangga, langkah strategis yang sedang ditempuh antara lain melalui proses aksesi ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), serta partisipasi dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

“Khusus untuk IEU-CEPA, perjanjian tersebut akan membuka akses yang lebih kompetitif bagi produk manufaktur Indonesia ke pasar Uni Eropa yang memiliki Produk Domestik Bruto sekitar 21 triliun dolar AS dengan jumlah penduduk mencapai 723 juta jiwa. Implementasi penuh IEU-CEPA nantinya akan menghapus tarif masuk berbagai produk Indonesia ke pasar Eropa yang saat ini masih berada pada kisaran 10 hingga 20 persen,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Ia menjelaskan, keanggotaan OECD akan membuka akses Indonesia ke pasar yang mencakup 38 negara dengan nilai ekonomi sekitar 64 triliun dolar AS. Selain itu, proses tersebut diharapkan mendorong perbaikan kualitas regulasi dan meningkatkan daya saing nasional.

Selain itu Airlangga mengeklaim, pemerintah terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

Airlangga menjelaskan bahwa langkah Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik instrumen rupiah diharapkan dapat mengurangi tekanan arus modal keluar (capital outflow), yang selanjutnya perlu didukung dengan masuknya investasi-investasi berkualitas.

“Kerjasama antara fiskal moneter ini sudah sangat baik. Karena kami juga secara temporer bertemu. Dan kita memonitor dana pihak ketiga yang diperbankan, kemudian penyaluran kredit, dan juga tentu likuiditas di market ini sangat diperlukan,” tegas Airlangga.

Airlangga juga mengakui, konflik Timur Tengah terus menjadi perhatian karena harga energi, rantai pasok global, hingga arus investasi. Meski begitu, pemerintah melihat peluang terciptanya stabilitas ekonomi global apabila penyelesaian perdamaian dapat segera terwujud.

“Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global. Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian,” ujarnya.

Airlangga menjelaskan ketidakpastian global akibat konflik geopolitik menyebabkan pasar menjadi semakin sulit diprediksi, investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan menjaga likuiditas.

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, berbagai kawasan ekonomi khusus di Indonesia masih menunjukkan kinerja positif dengan tingkat keterisian yang tinggi. Bahkan mendorong rencana ekspansi di sejumlah lokasi sebagai bagian dari realignment rantai pasok global.

“Kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang aman dan menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang didukung negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor,” katanya. (lea/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 24 Juni 2026
32o
Kurs