Pemerintah dan warga Kota Surabaya perlu mendengar alarm fatherless atau kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran, peran, atau keterlibatan figur ayah secara lebih serius.
Hasil analisis komunikasi big data MultiPlatform ASIGTA terhadap percakapan publik di Twitter/X, Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube sejak Januari 2025 hingga akhir Juni 2026 menunjukkan Surabaya menjadi salah satu titik kuat percakapan digital tentang isu fatherless, di bawah DKI Jakarta.
Meski dalam heatmap lokasi percakapan digital masih berada di bawah DKI Jakarta, Irwan Dwi Arianto Kepala Laboratorium Integrated-Digital UPN Veteran Jawa Timur (Jatim) tetap mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menangkap isu tentang fatherless ini sebagai alarm sosial, dan peringatan kebijakan keluarga.
Menurut Irwan, isu fatherless tidak cukup dibaca sebagai persoalan privat di dalam rumah tangga. Fenomena ini perlu dilihat sebagai sinyal sosial yang berkaitan dengan masa depan anak, kualitas pengasuhan, kesehatan mental keluarga, dan ketahanan sosial kota.
Ia menilai, Surabaya tidak cukup hanya membangun taman, sekolah, jalan, layanan administrasi, dan fasilitas publik. Kota juga perlu membangun ekosistem pengasuhan yang membuat anak merasa didengar, dilindungi, dan memiliki ruang aman untuk tumbuh.
“Pemerintah Kota Surabaya perlu menangkap sinyal ini sebagai alarm sosial, peringatan kebijakan keluarga. Kota tidak cukup membangun taman, sekolah, jalan, layanan administrasi, dan fasilitas publik. Kota juga perlu membangun ekosistem pengasuhan,” kata Irwan dalam analisa tertulisnya yang diterima suarasurabaya.net, Minggu (28/6/2026).
Irwan menyebut, anak-anak Surabaya tidak hanya membutuhkan akses pendidikan. Mereka juga membutuhkan keluarga yang mendengar, sekolah yang peka, lingkungan yang melindungi, serta ruang digital yang tidak mengeksploitasi luka.
“Anak Surabaya tidak hanya membutuhkan akses pendidikan. Anak Surabaya membutuhkan keluarga yang mendengar, sekolah yang peka, lingkungan yang melindungi, dan ruang digital yang tidak mengeksploitasi luka,” ujarnya.
Meski demikian, Irwan juga menegaskan temuan analisis komunikasi big data MultiPlatform ASIGTA tersebut tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa Surabaya memiliki angka fatherless tertinggi. Ia menegaskan, data media sosial bukan data prevalensi.
“Temuan ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa Surabaya memiliki angka fatherless tertinggi. Data media sosial bukan data prevalensi. Namun temuan ini menunjukkan bahwa Surabaya menjadi salah satu pusat artikulasi digital tentang fatherless, relasi ayah-anak, luka keluarga, tekanan pengasuhan, dan krisis kehadiran emosional dalam rumah,” jelasnya.
Adapun riset tersebut menggunakan pendekatan mixed methods. Tahap kuantitatif-komputasional digunakan untuk membaca volume percakapan, relasi digital, impresi, tayangan, komentar, likes, shares, struktur jaringan, dan heatmap lokasi.
Sementara tahap kualitatif digunakan untuk membaca makna percakapan melalui analisis diskursus, pembacaan narasi digital, dan interpretasi sosial atas bahasa yang muncul dalam komentar, unggahan, video, serta interaksi warganet.
Dataset terkonsolidasi memperlihatkan lebih dari 32 ribu unit data dan relasi percakapan digital lintas platform. Twitter/X menjadi ruang percakapan terbesar dengan lebih dari 15 ribu unit percakapan dan impresi terukur di atas 1,7 miliar.
TikTok memperlihatkan daya ledak emosional melalui 110 unggahan dan lebih dari 13 ribu komentar, dengan sekitar 72,4 juta tayangan, 14,6 juta likes, dan 646 ribu shares.
YouTube memperkuat narasi panjang tentang fatherless melalui 310 video dengan sekitar 27,7 juta tayangan. Instagram memperlihatkan lebih dari 1.800 unit data yang banyak bergerak pada bahasa healing, parenting, kesehatan mental, dan relasi ayah-anak. Sementara Facebook memperlihatkan ratusan percakapan yang banyak bergerak pada renungan keluarga, agama, dan moral pengasuhan.
Tapi, Irwan yang juga anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya kembali menekankan bahwa angka tersebut adalah jejak perhatian digital, dan bukan sensus seluruh percakapan publik.
“Dengan kata lain bahwa angka tersebut adalah jejak perhatian digital. Untuk menjadi catatan bahwa setiap platform memiliki keterbatasan akses data, kebijakan API, sistem pencarian, algoritma, dan ketentuan aplikasi yang berbeda. Itulah sebabnya data ini bukan sensus seluruh percakapan publik, bukan jumlah orang unik, dan bukan angka prevalensi fatherless di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, menurut Irwan, jejak perhatian digital ini penting bagi Surabaya karena kota tersebut memiliki tradisi mendengar yang kuat. Warga Surabaya terbiasa menyuarakan berbagai persoalan kota, mulai dari jalan rusak, banjir, lalu lintas, layanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga keamanan lingkungan.
Namun, isu fatherless menunjukkan jenis persoalan kota yang lebih sunyi. Persoalan ini tidak selalu muncul dalam laporan formal, tetapi hidup dalam ruang keluarga dan percakapan digital.
“Data fatherless menunjukkan jenis persoalan kota yang lebih sunyi. Persoalan ini tidak selalu muncul dalam laporan formal. Ia hidup di meja makan keluarga, kamar anak, ruang kelas, komentar TikTok, utas Twitter/X, video YouTube, dan curhat digital yang sering dibungkus humor, healing, atau kemarahan,” ujar Irwan.
Ia menyebut temuan terpenting dari riset tersebut bukan sekadar ramainya pembahasan fatherless. Lebih dari itu, banyak anak dan orang dewasa muda sedang berusaha memberi nama pada luka yang selama ini tidak selalu diakui keluarga.
Mereka berusaha menjelaskan mengapa rumah terasa asing, mengapa ayah terasa jauh, mengapa ibu terlihat terlalu lelah, dan mengapa anak merasa sendirian meskipun keluarganya tampak lengkap.
Irwan menilai, fatherless tidak boleh dipersempit sebagai kondisi anak yang tidak memiliki ayah secara fisik. Dalam percakapan digital, fatherless justru sering muncul sebagai hilangnya fungsi ayah secara emosional.
“Banyak anak tidak kehilangan ayah sebagai nama akan tetapi kehilangan ayah sebagai fungsi. Ayah ada di rumah tetapi tidak hadir dalam percakapan. Ayah bekerja keras tetapi tidak memberi rasa aman. Ayah membayar sekolah tetapi tidak selalu menjadi tempat anak bercerita,” katanya.
Karena itu, Irwan mengingatkan agar isu fatherless tidak berubah menjadi arena saling menyalahkan. Apalagi dalam percakapan media sosial, isu ini kerap diperdebatkan dengan menyalahkan ayah, ibu, anak, budaya, agama, hingga standar psikologi populer.
Ia menekankan bahwa pembacaan seperti itu berbahaya karena fatherless bukan persoalan tak ada sosok ayah secara fisik semata. Ia menyebut fatherless sebagai krisis kesadaran pengasuhan keluarga.
“Fatherless bukan soal ayah semata. Fatherless adalah krisis kesadaran pengasuhan keluarga. Ayah, ibu, anak, pekerjaan, ekonomi, sekolah, budaya patriarki, agama, media sosial, dan kebijakan kota ikut membentuk hadir atau hilangnya fungsi ayah dalam keluarga,” jelasnya.
Irwan juga menyoroti budaya patriarki yang membuat sebagian ayah merasa cukup hadir sebagai pencari nafkah. Di sisi lain, ibu kerap menanggung hampir seluruh kerja emosional dalam keluarga. Dalam situasi seperti itu, anak menjadi pihak yang paling sering kehilangan ruang aman.
Menurut Irwan, banyak keluarga tidak kekurangan nasihat, tetapi kekurangan ruang mendengar. Anak tidak selalu membutuhkan ceramah panjang. Anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia berhenti sebentar, menatap, mendengar, dan tidak langsung menghakimi.
“Fatherless tidak selalu berarti ayah pergi dari rumah. Fatherless dapat muncul ketika rumah terlalu penuh instruksi tetapi terlalu miskin percakapan. Ayah ada, ibu ada, aturan ada, tetapi ruang aman untuk bercerita tidak selalu tersedia,” katanya.
Karena itu, Surabaya dinilai membutuhkan gerakan yang lebih substantif. Program seperti ayah ambil rapor atau ayah antar sekolah bisa menjadi simbol awal, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai solusi utama.
“Fatherless tidak selesai karena ayah datang ke sekolah satu hari. Fatherless tidak selesai karena ayah hadir dalam dokumentasi kegiatan. Fatherless hanya dapat dijawab melalui kehadiran yang konsisten di rumah, percakapan yang sehat, pembagian pengasuhan yang adil, dan keberanian orang tua untuk mendengar anak tanpa langsung menghakimi,” kata Irwan.
Ia mendorong penguatan guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai simpul pendengaran, bukan hanya ruang disiplin. Sekolah juga perlu membaca perubahan perilaku anak sebagai pesan, bukan sekadar pelanggaran.
Selain itu, puskesmas, kelurahan, kader keluarga, forum anak, kampung, komunitas, dan media lokal perlu terhubung dalam sistem dukungan keluarga. Literasi digital keluarga juga harus diperkuat karena anak yang tidak didengar di rumah dapat mencari validasi di ruang digital yang belum tentu aman.
Irwan menilai, Suara Surabaya selama ini menjadi ruang penting bagi warga untuk menyampaikan persoalan kota. Isu fatherless mengajak semua pihak memperluas makna mendengar.
“Kota tidak hanya perlu mendengar suara klakson, banjir, kemacetan, dan keluhan layanan publik. Kota juga perlu mendengar suara anak yang diam, ibu yang lelah, dan ayah yang tidak pernah diajari hadir secara emosional,” ujarnya.
Bagi Irwan, alarm fatherless bukan hanya soal keluarga yang retak, tetapi juga masa depan kota. Anak yang tidak didengar di rumah dapat tumbuh sebagai warga yang kehilangan rasa percaya, kehilangan ruang aman, dan mencari pengakuan dari tempat yang salah.
“Itulah sebabnya Surabaya tidak cukup menjadi kota yang layak huni. Surabaya harus menjadi kota yang layak menjadi tempat pulang batin bagi anak-anaknya,” pungkasnya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

