Jumat, 3 Juli 2026

Liga Sepak Takraw Indonesia 2026 Perkuat Regenerasi Atlet Menuju SEA Games dan Asian Games

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Liga Sepak Takraw Indonesia (LSI) 2026 wilayah II berlangsung di Gelora Pancasila, Surabaya pada 1-4 Juli 2026. Foto: PSTI Jawa Timur

Liga Sepak Takraw Indonesia (LSI) 2026 menjadi bagian penting dari strategi Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) dalam memperkuat regenerasi atlet nasional.

Melalui kompetisi berjenjang yang digelar di lima wilayah Indonesia, PB PSTI menargetkan lahirnya pemain-pemain terbaik yang siap memperkuat tim nasional di ajang SEA Games, Asian Games, hingga kejuaraan dunia.

Komitmen tersebut ditegaskan Nukhrawi Nawir Sekretaris Jenderal PB PSTI, saat membuka Liga Sepak Takraw Indonesia 2026 Wilayah II di Surabaya, Kamis (2/7/2026). Menurutnya, liga nasional bukan sekadar kompetisi antardaerah, melainkan sistem pembinaan atlet yang dirancang secara berkelanjutan.

“Kompetisi ini dirancang sebagai sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan sekaligus menjadi wadah menjaring talenta-talenta terbaik menuju level internasional,” kata Nukhrawi.

LSI 2026 berlangsung pada 2-27 Juli 2026 dan dibagi ke dalam lima wilayah. Bandar Lampung menjadi tuan rumah Wilayah I, Surabaya Wilayah II, Mamuju Wilayah III, Jayapura Wilayah IV, serta Tarakan Wilayah V.

Sebanyak 39 tim dari berbagai provinsi mengikuti kompetisi berdasarkan rekomendasi Pengurus Provinsi PSTI. Khusus Wilayah II, peserta berasal dari sembilan provinsi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Menurut Nukhrawi, seluruh pertandingan dipimpin 25 wasit nasional berlisensi, sementara seluruh atlet mendapatkan perlindungan BPJS Kesehatan selama mengikuti kompetisi.

“Di Wilayah II sendiri, peserta berasal dari sembilan provinsi di Pulau Jawa serta Bali, NTB, dan NTT. Seluruh pertandingan dipimpin 25 wasit nasional berlisensi, sementara seluruh atlet mendapatkan perlindungan BPJS Kesehatan selama mengikuti kompetisi,” ujarnya.

PB PSTI juga menunjuk Jawa Timur sebagai salah satu tuan rumah karena dinilai memiliki tradisi pembinaan atlet yang konsisten. Selama ini provinsi tersebut rutin melahirkan pemain yang mampu bersaing di level nasional.

“Potensi Jatim luar biasa dan selalu mencetak atlet nasional. Selain itu para pengurusnya betul-betul aktif, sehingga Jawa Timur kami minta menjadi tuan rumah penyelenggaraan,” tutur Nukhrawi.

Sementara itu Aries Agung Paewai, Ketua PSTI Jawa Timur menilai LSI menjadi kesempatan bagi atlet daerah untuk membuktikan kualitas sekaligus membuka jalan menuju tim nasional.

Ia optimistis kontingen Jawa Timur mampu bersaing karena seluruh atlet telah dipersiapkan secara matang, baik dari aspek fisik, teknik maupun mental bertanding.

“Kita tetap optimistis karena atlet-atlet sudah dipersiapkan secara matang dari jauh-jauh hari sebelum LSI. Sebagai tuan rumah kita tidak ingin atlet-atlet kita kalah sebelum bertanding. Mereka sudah siap mentalnya, siap fisiknya, dan skill-nya juga sudah kita benahi,” ujar Aries.

Menurut Aries, target besar Jawa Timur bukan hanya meraih prestasi di LSI, tetapi juga mengirimkan sebanyak mungkin atlet ke pemusatan latihan nasional agar dapat membela Indonesia pada berbagai ajang internasional.

“Jawa Timur harus menghasilkan bibit-bibit atlet nasional yang bisa turun di ajang SEA Games, Asian Games atau event level dunia,” tegasnya.

Ia menambahkan liga nasional juga menjadi media memperkuat sportivitas, persaudaraan antardaerah, sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan sepak takraw Indonesia.

“Kompetisi ini harus menjadi sarana membangun sportivitas dan meningkatkan prestasi sepak takraw Indonesia agar mampu bersaing di SEA Games, Asian Games hingga kejuaraan dunia,” katanya. (saf/bil/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Jumat, 3 Juli 2026
26o
Kurs