Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya gagal panen atau puso terhadap lahan pertanian imbas dampak kekeringan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jatim, seluas 28 hektare lahan dipastikan mengalami gagal panen. Tiga daerah yang tercatat mengalami dampak cukup parah, antara lain Tulungagung, Lamongan dan Magetan.
Dengan estimasi produktivitas rata-rata 5,6 ton per hektar, tiga wilayah tersebut berpotensi kehilangan hasil panen sekitar 156,8 ton gabah.
Untuk mengantisipasi gagal panen semakin meluas, Heru Suseno Kepala DPKP Jatim mendorong para petani supaya mengganti
pola tanam dari padi ke palawija.
”Daripada dipaksakan menanam padi tapi airnya kurang dan gagal lagi, lebih baik sementara menanam tanaman lainnya,” ujar Heru dikonfirmasi, Rabu (26/8/2026).
Selain itu, pihaknya telah merancang skema intervensi bantuan benih gratis yang siap didistribusikan mulai September mendatang.
Heru mengatakan, penanaman serentak ditargetkan berlangsung pada Oktober, bertepatan dengan datangnya siklus musim hujan.
“Tak hanya benih, pasokan pupuk hingga obat-obatan penanganan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) juga disiagakan untuk mengawal awal musim tanam baru,” jelasnya.
Kemudian DPKP Jatim terus berupaya mengoptimalkan program pompanisasi supaya dampak kekeringan tidak merembet ke area yang lebih luas.
Heru menyebut, dalam dua tahun terakhir sebanyak 8.639 unit bantuan pompa air telah disalurkan kepada kelompok tani secara bertahap.
Di sisi lain, Heru memastikan stok beras untuk masyarakat Jawa Timur dalam kondisi sangat aman di tengah ancaman gagal panen di sejumlah titik.
Cadangan beras hasil panen periode Juni hingga Juli lalu mencatatkan surplus yang diprediksi mampu menopang kebutuhan masyarakat sampai Desember mendatang.
“Pasokan ini dipastikan makin tebal dengan tambahan hasil panen bulan ini hingga September mendatang yang saat ini masih dalam proses pendataan,” ucapnya.
Sementara itu Anton Dharma Kepala Bidang Irigasi Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Jatim menegaskan bahwa tantangan teknis di sektor hilir irigasi tidak boleh diabaikan dalam upaya menekan gagal panen akibat kekeringan.
Menurut Anton, kunci utama dalam menyiasati penurunan debit air bertumpu pada Rencana Tata Tanam Global (RTTG). Instrumen tersebut menjadi pijakan vital dalam mendistribusikan air secara merata di 178 Daerah Irigasi yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jatim.
“Dengan jadwal distribusi yang bergantian antarwilayah, aliran air dapat terbagi proporsional sehingga tidak ada lahan pertanian yang benar-benar kering,” jelas Anton.(wld/iss/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

