Minggu, 18 Oktober 2026
Dampak Kenaikan BBM Industri

100 Perusahaan di Sidoarjo Kian Terpuruk

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Kenaikan BBM industri sebesar 1% sampai 5% per 1 Juli 2007 makin membuat 100 perusahaan di Sidoarjo kian terpuruk. Kenaikan yang signifikan tersebut dinilai R ROMMY CEHA Ketua Apindo Sidoarjo, makin membebani perusahaan-perusahaan di Sidoarjo setelah digempur lumpur Lapindo.

Pada suarasurabaya.net, Senin (02/07), ROMMY menjelaskan, sampai saat ini saja persoalan infrastruktur di Sidoarjo tidak terkontrol. “Dengan kenaikan BBM industri yang signifikan itu, perusahaan tidak tahu harus berbuat apalagi. Sebab, kenaikan BBM industri tersebut tidak serta merta diikuti dengan harga produk. Kalau perusahaan nekad menjadi senjata makan tuan,”ujarnya.

Menurut ROMMY, kenaikan BBM industri tidak berbanding lurus dengan harga produk. Kecuali kalau perusahaan itu adalah perusahaan monopoli sehingga bisa membebankan harga produk ke konsumen.

Kondisi yang ada saat ini, ungkap ROMMY, perusahaan dalam negeri banyak menghadapi tantangan. Jangankan bersaing dengan produk luar negeri terutama Cina dan Taiwan, bersaing dengan sesama perusahaan dalam negeri saja cukup sulit.

ROMMY menjelaskan perusahaan yang ada di wilayah Sidoarjo cukup beragam menggunakan BBM. Tidak hanya mesin-mesin perusahaan tapi juga transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil produksi. Ada pula perusahaan dapur peleburan menggunakan solar.

“Jadi kalau ada anggapan BBM industri hanya ditujukan pada penggunaan di mesin-mesinnya saja, tidak benar. Setiap perusahaan memiliki truk dan truk juga menggunakan BBM. Otomatis beban biaya produksi semakin membengkak,”ujarnya.

ROMMY melihat apa tidak ada alternatif dari Pemerintah selain membebani masyarakat perindustrian untuk meningkatkan pendapatan negara. Pemerintah seharusnya lebih melihat ke internalnya.

“Setiap ada kebijakan pemerintah, kita menerima dengan terpaksa. Bahkan untuk mengeluarkan kebijakan, Apindo tidak pernah dilibatkan. Untuk menghadapi kenaikan BBM industri ini, Apindo Sidoarjo akan berkoodinasi dengan lintas sektoral dan Apindo di tingkat atas,”tukasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, TOHARSO Kepala Divisi Humas Pertamina Pusat pada Suara Surabaya, Sabtu (30/06), menjelaskan, kenaikan BBM Industri ini karena harga minyak dunia Mean of Platts Singapore (MPOS) juga naik antara 0,6%-5,1% persen. Begitu juga dengan nilai dollar yang melemah.

Meski ada kenaikan, kata TOHARSO, ada juga yang turun yaitu premium. Dari MOPS premium justru turun 4% menjadi Rp6.179,33 per liter. Sementara yang naik BBM industri jenis minyak tanah naik 1,6% menjadi Rp5.926,49, minyak solar naik 1,1%, minyak solar transportasi menjadi Rp6.125, minyak solar industri menjadi Rp 5.858,7, minyak diesel naik 1% menjadi Rp5.676,54, dan minyak bakar naik 6,8% menjadi Rp3.950, serta Pertamina DEX Rp6.260,91 per liter. Harga ini sudah termasuk PPN 10 persen dan khusus harga solar industri belum termasuk pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5%. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Minggu, 18 Oktober 2026
30o
Kurs