Jumat, 16 Oktober 2026
Importir Keluhkan Biaya Tinggi

GAFEKSI Empati Kesulitan Customer

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Importir Jawa Timur mengeluhkan biaya ekonomi tinggi dari pengusaha Freight Forwarder. Pemerintah sendiri belum tergelitik mengatur mekanisme penetapan tarif Forwarder untuk menekan biaya ekonomi tinggi.

Demikian ungkap BAMBANG TRISULO Ketua Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur dalam Business Gathering Radio Suara Surabaya, Sabtu (24/11).

Menurut BAMBANG, saat ini importir menjadi bulan-bulanan pengusaha Freight Forwarder. Pengusaha Freight Forwarder mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan meneguk kesempatan dalam ketidakberdayaan importir untuk mengubah pola importasinya dari syarat perdagangan CFR (Cost and Freight) menjadi FOB (Free On Board).

Begitu pula dalam melakukan handling barang impor terutama dalam kondisi LCL (Less than Container Load) dimana mereka bertindak sebagai Consolidator’s Agent, mereka membebani berbagai macam biaya termasuk surchage yang nominalnya cukup tinggi. Dan kelihatan nyata dibuat-buat meskipun baik sadar atau tidak merupakan pembodohan terhadap importir dan memberikan kontribusi ekonomi biaya tinggi.

“Dari struktur tarif saja, kita melakukan judgement terhadap biaya-biaya di luar CFS Charges yang tidak seharusnya dikenakan kepada importir seperti halnya Stripping Charges. Karena Stripping Charges sudah masuk dalam CFS Charge,”tukasnya.

Sementara itu, AZIZ WINANDA Ketua Gabungan Forwarder & Ekspedisi Indonesia (GAFEKSI) DPW Jawa Timur pada suarasurabaya.net, mengatakan, biaya tinggi lebih disebabkan pada ketidakpahaman importir pada kerja pengiriman barang.

Ia mencontohkan pengiriman barang ke satu pelabuhan pasti beda dengan pelabuhan lainnya. Begitu pula dengan pengiriman barang ke simpul pengiriman seperti di pelabuhan kadang-kadang macet atau terhambat sehingga sopir mengambil jalan lain yang lebih panjang. “Ini juga memicu biaya pengiriman jadi lebih tinggi,”ujarnya.

AZIZ menegaskan permasalahan importir secara umum adalah tarif yang timbul di lapangan bukan official tariff. Misalnya, pengaturan di lapangan ada barang yang tidak bisa keluar karena importir kurang syarat-syaratnya mengeluarkan dokumen atau bisa jadi karena memang Forwarder-nya kurang qualified. Akibatnya, timbul tawar- menawar biaya yang seharusnya bisa 100 tapi ditarik 125.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, GAFEKSI akan mencari format yang tepat. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan sistem National Single Window (NSW), yang akan diterapkan secara nasional pada April 2008. Pelaksanan NSW ini, tambah AZIS bisa menekan sampai 80% biaya yang harus dikeluarkan pengusaha importir.

“GAFEKSI sendiri juga tahap sosialisasi terkait pelaksanaan sistem NSW yang ujicobanya pada akhir Desember 2007 ini di Pelabuhan Tanjung Perak. Kita terus empati terhadap kesulitan customer,”pungkasnya. (tin)

Teks foto :
– Business Gathering Radio Suara Surabaya
Foto : TITIN suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
35o
Kurs