Jumat, 16 Oktober 2026
Ekonomi Global Melambat

Indonesia Hadapi Tantangan Terberat di 2008

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Perekonomian Indonesia tahun 2008 diprediksi masih bisa lebih baik dibanding 2007. Ini berdasarkan tren investasi dan kontribusi perdagangan internasional.

Meski demikian, kata RYAN IRIANTO Ketua Tim Ekonomi BNI Divisi Perencanaan Strategis dalam seminar “Prospek Ekonomi dan Politik Indonesia 2008” di Hotel JW Marriott, Senin (19/11), di tahun 2008 nanti Indonesia masih akan menghadapi tantangan terberat berupa perlambatan perekonomian global, yang terkoreksi oleh tingginya harga minyak dunia yang sulit diturunkan. Diprediksi pada 2008, harga minyak dunia mencapai US$ 90 per barrel.

Pertumbuhan ekonomi 2008 akan berada di level 6,5%, inflasi juga terkendali di level 6,5%. Inflasi terkendali selama pemerintah bisa membenahi distribusi pasokan barang di sektor riil.

BI Rate berpeluang turun, seiring dengan penurunan suku bunga di luar negeri, misalnya Fed Rate diproyeksikan di level 4,00%. Dengan belanja negara seperti dalam RAPBN 2008 sebesar Rp 836,4 trilyun, tegas IRIANTO, diharapkan bisa men-drive ekonomi Indonesia.

Krisis energi dunia masih akan berlanjut yang dipicu faktor obyektif-fundamental serta subyektif fundamental. Di sisi supply, saat ini semakin sulit menemukan sumur minyak baru yang produktif sementara di sisi demand terjadi lonjakan besar, seiring pertumbuhan ekonomi tinggi di China (11,5%) dan di India (9,4%). Faktor ketegangan geopolitik AS dan Iran, Iran-Venezuela versus AS dan masuknya komoditas minyak ke wilayah spekulasi.

IRIANTO menjelaskan posisi perekonomian Indonesia di 2007 ini belum bisa tumbuh optimal. Prediksinya di level 6,2% atau sedikit di bawah target 6,3%. Meski harga minyah dunia mendekati US$ 100 per barrel, diperkirakan APBN 2007 masih relatif aman.

Perkembangan ekspor impor minyak Indonesia, berdasarkan data Bank Indonesia, nilai ekspor per Agustus 2006 mencapai US$ 976,8 juta dan impor pada bulan yang sama sebesar US$ 1.776.8 juta. Indonesia telah lama menjadi net importer minyak. Pada 1980 dengan penduduk 130 juta-an produk minyak Indonesia 1,6 juta barrel/hari. Sekarang dengan jumlah penduduk 225 juta produksi minyak hanya 970 ribu barrel/hari. Ini terjadi mismacth atau excess demand.

Inflasi 2007 relatif terkendali di level 6,5% dan cadangan devisa memecahkan rekor di level US$54,3 milyar. “Namun semua pencapaian ini harus diongkosi 20% dari biaya moneter. Timbunan SBI per Agustus 2007, ada Rp 269 trilyun. Ini menunjukkan masih banyak dana yang belum terserap di sektor riil,”paparnya. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
36o
Kurs