Indonesia sampai saat ini masih menjadi korban krisis keuangan global. Ini sulit dihindari oleh pemegang modal yang ada di Indonesia
Hal tersebut disampaikan Prof Drs Ec WIBISONO HARDJOPRANOTO MS pada pidato pengukuhan jabatan Guru Besar bidang Ilmu Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Surabaya, Sabtu (03/11).
Melihat kondisi tersebut, kata WIBISONO saat ditemui suarasurabaya.net, peran lembaga intermediasi keuangan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat itu layak untuk diperbincangkan.
Libelarisasi dan persaingan di pasar uang yang diyakini mampu menciptakan dunia kesejahteraan, tegas WIBISONO, ternyata telah membuat perekonomian dunia semakin rentan terhadap gejolak keuangan global.
Berdasarkan survei lembaga dana keuangan internasional selama satu dasawarsa lalu menunjukkan bahwa 73% negara anggotanya mengalami krisis keuangan yang cukup akut. Hanya beberapa negara yang mampu selamat dari krisis.
Dan Indonesia merupakan satu diantara negara yang menjadi korban krisis keuangan global. Hal tersebut, menurut WIBISONO, diakibatkan kondisi struktur kepemilikan pasar modal di Indonesia yang didominasi oleh sekelompok elit kaum pemilik modal asing yang mencapai 73% dengan nilai aset Rp515,82 trilyun. Sisanya dimiliki investor lokal sebanyak 27% dengan nilai aset Rp187,53 trilyun.
“Perjalanan untuk membangun sistem keuangan yang mampu membangkitkan perekonomian rakyat merupakan proses yang panjang. Dan di setiap zaman mempunyai tantangannya sendiri,”ujar WIBISONO yang juga Ketua Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia-Forum Rektor Indonesia (YPSDM-FRI).
Sementara itu, pengukuhan jabatan Guru Besar tidak hanya diterima oleh Prof Drs Ec WIBISONO HARDJOPRANOTO MS, tapi juga diterima oleh Prof Dra INDRAJATI KOHAR PhD sebagai Guru Besar bidang Kimia Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Surabaya. (may/tin)
NOW ON AIR SSFM 100

